12 Kerajaan Islam Di Indonesia Sejarah dan Peninggalannya

12 Kerajaan Islam Di Indonesia Sejarah dan Peninggalannya

www.do-not-zzz.com12 Kerajaan Islam Di Indonesia Sejarah dan Peninggalannya. Indonesia adalah salah satu negara Islam terbesar di dunia. Sekitar 85% penduduk Indonesia menganut agama Islam. Orang Indonesia juga dikenal ramah dan bersahabat sehingga banyak wisatawan yang berkunjung ke Indonesia. Selain wisata bahari, wisatawan bertujuan untuk melakukan proses perdagangan. Indonesia kaya akan hasil pertanian dan akuatik karena Indonesia terletak pada jalur untuk perdagangan dunia.

Awal Islam Di Indonesia

Banyak teori yang memperdebatkan masuknya Islam di Indonesia. Beberapa ahli mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dari abad ke-7 hingga abad ke-8. Yang lain percaya bahwa Islam masuk ke Indonesia antara abad 11 dan 13 Masehi.

Berikut proses perkembangan Islam di Indonesia:

  1. Perkembangan Islam pada abad ke-7 Masehi 

Pengusaha dari Arab membawa berita tentang perkembangan Islam di Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Pengusaha Arab telah menjalin hubungan kerjasama dengan Indonesia di bidang ekonomi. Pedagang Arab masuk dari pesisir Sumatera Utara atau kawasan Samudra Pasay. Tempat ini dianggap sebagai daerah pertama yang dipengaruhi oleh Islam. Itu meluas dari wilayah laut Pasai ke Selat Malaka, lalu ke pulau Jawa. Kabar masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 ini didasarkan pada pemberitaan Dinasti Tang Tiongkok yang menyebutkan bahwa bangsa Arab dan Persia telah membatalkan niatnya untuk menyerang He Ling di bawah kepemimpinan Ratu Sima pada 647.

  1. Perkembangan Islam pada abad ke-11 Masehi 

Perkembangan Islam pada abad ke-11 M telah dibuktikan dengan ditemukannya makam Fatimah Binti Maimun di Leran Manyar, Gresik. Makam Fatimah Binti Maimun memiliki prasasti berjudul 1082 Masehi.

  1. Perkembangan Islam pada abad ke-13 Masehi 

Perkembangan Islam pada abad ke-13 dibuktikan dengan beberapa aspek sebagai berikut:

  • Catatan Marcopolo menunjukkan bahwa dia menemukan Kerajaan Islam Ferlec di Aceh pada tahun 1292
  • K.F.H. Van Langen dari Tiongkok menyebutkan bahwa ia pernah melihat Kerajaan Pase pada tahun 1298 M (mungkin artinya Kerajaan Pasai)
  • R. A Kern, C. Snouck Hurgronje dan Schrieke lebih cenderung pendapatnya bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13.
  • J.P. Moquette dengan De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit hindoestan, membutikan Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13.
  • Teori Gujarat menyebutkan Islam masuk ke Indonesia dari pedagang dari Gujarat dan India pada abad ke-13.
  • Teori Persia bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh saudagar Persia yang menetap di Gujarat dan kemudian masuk ke Indonesia pada abad ke-13.

Cara Penyebaran

  1. Melalui Jalur Perdagangan 

Islam masuk ke Indonesia pertama kali melalui jalur perdagangan. Hal ini disebabkan posisi Indonesia dalam jalur perdagangan dunia. Peningkatan perdagangan di Indonesia terjadi pada abad ke-7 antara Timur Tengah, Arab, India, Asia Tenggara dan Cina.

Baca Juga: 14 Ilmuwan Muslim Yang Wajib Kalian Kenal

Proses islamisasi dilakukan oleh para pedagang yang menetap di sekitar pelabuhan membentuk kampung muslim, seperti Pekojan. Situasi politik di kerajaan Hindu juga mempercepat proses islamisasi, karena sang adipati ingin kabur dari pemerintahan utama negara.

  1. Melalui Jalur Perkawinan 

Islam memasuki sejarah Indonesia melalui pernikahan. Ketika perdagangan meningkat, pengusaha Indonesia menjadi kaya dan dihormati. Oleh karena itu, untuk menyebarkan Islam lebih luas, mereka menikahi gadis dengan syarat mereka mau memeluk Islam. Jika mereka yang belum menikah menikah dengan putra seorang raja atau adipati, itu akan lebih menguntungkan. Oleh karena itu, raja atau putra adipati akan mendukung Islam, dan rakyat di bawah kepemimpinannya secara otomatis akan mendukung Islam. Seperti pernikahan antara Maulana Ishak dengan putri Raja Brambangan yang lahir Sunan Giri serta Raden Rahmat (Sunan Ngapel) dan Nyai Gede Manila (putri Tumenggung Wilatikta).

  1. Melalui Jalur Tasawuf 

Tasawuf adalah doktrin sakral, yang telah disalahartikan dengan sihir atau doktrin mistik. Para ahli tasawuf memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Pakar sufi juga mempraktikkan Islam terlebih dahulu. Karenanya, saat berhadapan dengan seseorang, mereka juga menyebarkan Islam. Para ahli sufi mengalami beberapa kesulitan dalam menyebarkan Islam, karena mentalitas masyarakatnya masih berorientasi pada agama Hindu dan Buddha. Contoh ahli sufi adalah: Hamzah Fansyuri, Nur al Din al Raniri, Sunan Bonang, (Sunan Panggung), Abdul al Rauf.

  1. Melalui Jalur Pendidikan

Pendidikan Islam tertua adalah petani. Mereka disebut santri. Mereka dididik oleh Ki atau Ulama. Mereka sudah lama dididik dengan petani. Setelah selesai, mereka akan kembali ke posisi semula lagi. Di tempat kelahirannya, mereka diwajibkan untuk mengajarkan kembali apa yang telah mereka pelajari selama menjadi siswa. Karenanya, Islam menyebar ke pelosok desa. Pesantren yang didirikan pada masa kemakmuran Islam di Jawa antara lain Pondok Pesantren Sunan Ampel Surabaya yang didirikan oleh Sunan Ampel; santri-santri Pondok Pesantren Sunan Giri sebagian besar berasal dari Maluku (Kabupaten Hitu).

  1. Melalui Jalur Seni Budaya 

Islam juga berkembang melalui budaya dan seni, seperti seni arsitektur, seni pahat, seni tari, musik, dan sastra. Seni arsitektur yang masih sangat tradisional, seperti masjid, mimbar, dan patung, masih memiliki corak Buddha India. Masjid tersebut bisa ditemukan di Masjid Da Demark, Masjid Sendang Duwur Tuban, Masjid Ageng Banten, Masjid Baiturrahman Aceh, dan Masjid Ternate. Menurut cerita, Sunan Kalijaga pandai bermain wayang.

  1. Melalui Jalur Dakwah 

Penyebaran Islam di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh Wali Songo. Istilah “Wali” mengacu pada orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang agama Islam dan mampu memperjuangkan kepentingan agama tersebut. Menurut zamannya, para wali ini juga memiliki kesaktian, karena sebagian dari mereka juga adalah guru sufi.

Kerajaan Islam

1. Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai didirikan pada abad ke 13. Setelah jatuhnya Kerajaan Sri wijaya, pendirinya bernama Sultan Malik al Saleh. Kerajaan Samudra Pasai terletak di wilayah Aceh Utara Kabupaten Lokseumawe. Kerajaan Samudra Pasai merupakan gabungan dari kerajaan Pasai dan Peurlak. Pada tahun 1297, Sultan Malik al Saleh (Sultan Malik al Saleh) wafat. Sultan Mahmud (Sultan Mahmud) menggantikan Sultan Malik al Saleh (Sultan Malik al Saleh) dan menjadi anak dari putri Raja Pearlak. Selain itu, Kerajaan Samudra Pasai dipimpin oleh Sultan Malik Al Tahir pada tahun 1326. Seiring perkembangannya, Pasai menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam. Setelah Sultan Malik Al Tahir wafat, ia digantikan oleh Sultan Mahmud Malik az-Zahir hingga tahun 1345.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, kerajaan Perak telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai, dan kemudian ia memindahkan salah satu putranya, Sultan Mansour (Sultan Mansur) ditempatkan di Samudra. Namun pada era Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kawasan Samudra telah berganti nama menjadi Samudera Pasai (Samudera Pasai), dan terkonsentrasi di Pasay. Pada masa pemerintahan Sultan Zain Abidin Malik Azar Zahir dikatakan bahwa Lide (Kerajaan Pedir) merupakan bawahan kerajaan Pasay. Pada saat yang sama, Pasai dikatakan memiliki hubungan yang buruk dengan Nakur, dan puncak kerajaan menyerang Pasai yang mengakibatkan terbunuhnya Sultan Pasai (Sudan). Namun setelah ditaklukkan oleh Portugal pada tahun 1521, Kesultanan Pasay sendiri akhirnya runtuh. Portugal berhasil menaklukkan Malaka pada tahun 1511, kemudian pada tahun 1524, wilayah Pasay menjadi bagian dari Kesultanan Aceh.

Beberapa artefak sejarah Kerajaan Samudra Pasay antara lain Cakra Donya, Naskah Sultan Zanal Abidin, Makam Sultan Malik Saleh, Zain · Makam Abidin Malik Azar Sehir, meterai kerajaan Samudra Pasay, Makam Ratu Accra.

2. Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh didirikan pada tahun 1514. Sultan Ibrahim atau Ali Mugayat Syah adalah raja pertama Aceh Darussalam. Menurut prasasti di batu nisan Sultan Ali Mugayat Syah, Sultan Ali Mugayat Syah memerintah Aceh Darussalam selama 10 tahun. Meski Sultan Ali Mugayat Syah hanya memimpin sebentar, namun ia menjadikan Aceh Darussalam kuat dan besar. Kerajaan Aceh Darussalam terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Aceh Besar. Aceh Darussalam berjaya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dari 1607 hingga 1636.

Kemerosotan Aceh Darussalam disebabkan oleh banyak faktor antara lain menguatnya kekuasaan Belanda atas Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan Minangkabau, Siak, Tiku, Tapanuli, dan Man Deling, deli, runtuhnya kawasan Barus dan Bangluo berkurang. untuk kolonialisme Belanda. Faktor penting lainnya adalah perebutan kekuasaan antara pewaris takhta.

Contoh artefak prasejarah Negara Raja Aceh Darussalam antara lain Masjid Agung Baiturrahman, Benteng Indrapatra, Gunungan, Makam Sultan Iskandar Muda, Mariam, Kerajaan Aceh Darussalam dan Koin emas dari Aceh Darussalam.

3. Kerajaan Demak

Kerajaan Islam pertama di pulau Jawa adalah Kerajaan Demak yang berdiri pada tahun 1478 di bawah pimpinan Raden Patah. Dulunya, Demak (masih dikenal sebagai Bintoro) adalah wilayah kerajaan bawahan Majapahit yang diberikan oleh Raja Majapahit kepada Radeen Patah. Wilayah Kerajaan Demak meliputi Banjar, Palembang, Maluku dan pesisir utara Pulau Jawa. Saat itu, ulama menunjuk Sunan Kalijaga dan Ki Wanalapa sebagai penasehat kerajaan dan berperan penting dalam masyarakat. Pada 1507, Raden dipatahkan dan digantikan oleh putranya Pati Unus.

Saat memimpin Kerajaan Demak, Pati Unus masih banyak mengalami kegagalan. Namun Pati Unus dijuluki Pangeran Sablan Lor karena keberanian Pati Unus menyerang Portugis di Malaka. Pada tahun 1521, Pati Unus meninggal dunia dan digantikan oleh adik laki-lakinya Trenggana, mengalami masa kejayaan. Kerajaan Demak dihancurkan oleh perang saudara untuk memperebutkan tahta Kerajaan Demak.

Contoh peninggalan sejarah Kerajaan Demark adalah Masjid Agung Demark, Pinto Bledek, Sokotatal dan Sokoguru, Bedug, Kentongen, Situ Kolam Wudhu, Makrusa, Dampar Kencana, plate camp.

4. Kerajaan Islam Panjang

Kerajaan Islam Panjang didirikan pada tahun 1568 oleh Sultan Adiwijoyo atau Jaka Tingkir. Sultan Adi Wijaya berhasil mengalahkan Arya Penangsang dan memindahkan Kerajaan Demak ke wilayah Panjang yang menjadi awal berdirinya Negara Islam. Setelah Sultan Adi Wijaya wafat pada tahun 1582, putranya, Pangeran Benowo, mewarisi takhta. Namun Pangeran Arya Pangiri dari Demak mencoba merebut kembali kekuasaan ISIS dari Pangeran Benovo, namun gagal. Kemudian, Pangeran Benovo menyerahkan takhta kepada ayah angkatnya Sutowijoyo. Namun Sutowijoyo memindahkan Kerajaan Islam Panjang ke wilayah Mataram dan menjadi awal kehancuran Kerajaan Islam Panjang.

5. Kerajaan Islam Mataram

Kerajaan Islam Mataram didirikan pada tahun 1586 oleh Sutowijoyo. Kerajaan Islam Mataram terletak di Kotagede di sebelah tenggara Yogyakarta. Sutawijaya wafat pada 1601 dan digantikan oleh Mas Jolang atau Panembahan Seda ing Krapyak. Pada masa pemerintahan Mas Jolang atau Panembahan Seda ing Krapyak banyak terjadi pemberontakan. Kemudian Mas Jolang atau Panembahan Seda ing Krapyak mengirimkan pasukan untuk melawan pemberontakan. Sayangnya, sebelum mengakhiri pemberontakan, Mas Jolang meninggal lebih dulu. Kemudian Mas Jolang digantikan oleh Adipati Martapura, namun pada akhirnya Adipati Martapura meninggal dunia karena sakit. Sejak saat itu, ia digantikan oleh Mas Rangsang dan berkembang di banyak daerah. Raja Mas Rangsang, dia dikenal sebagai Sultan Agung.

Baca Juga: 5 Sungai Utama-Suci di India dan Sejarah Singkatnya

Peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Oslam yaitu transkrip literatur Sultan Agung, tahun Saka, kerajinan perak, Kalang Obong, Kue Kipo, Batu Datar, Busana Gundhil Kyai, Gerbang Makan Kotagede.

6. Kerajaan Islam Cirebon

Pada tahun 1522, Kerajaan Islam Cirebon didirikan, dan pendiri serta rajanya bernama Raden Fatahillah. Ia memainkan peran penting dalam Islam Provinsi Jawa Barat. Di bawah pemerintahan Raden Fatahillah, Kerajaan Islam Cirebon berjaya. Cakupan kekuasaannya semakin meluas, dan Kerajaan Islam Cirebon menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Mataram Islam. Raden Fatahillah meninggal pada tahun 1570 dan digantikan oleh putranya Pangeran Pasarean. Dalam perkembangannya, pada tahun 1679 Kerajaan Islam Cirebon terbagi menjadi dua kerajaan yaitu Kasepuhan dan Kanoman.

Saat itu VOC masih ingin menduduki wilayah Cirebon, oleh karena itu VOC menggunakan strategi Devide Et Impera dan membagi Kerajaan Islam Cirebon yang semula terbagi menjadi tiga, yaitu Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan. Situasi ini semakin memperburuk Kerajaan Islam Cirebon. Dimakan Kerajaan Islam Cirebon pada abad ke-7, itu dikuasai oleh VOC.

Artefak sejarah dari Kerajaan Islam Cirebon adalah Istana Kasepuhan, Istana Kanoman, Istana Kacirebonan, Masjid Sang Cipta Rasa, Masjid Jami Pakuncen, makam kuno dan peninggalan budaya.

7. Kerajaan Islam Banten

Negara Islam Banten didirikan di Banten pada tahun 1552 oleh Hasanuddin. Ayahnya Raden Fatahillah (Raden Fatahillah) ditunjuk untuk memimpin Negara Islam di Banten. Kerajaan Islam Banten di bawah kepemimpinan Hasanuddin semakin kuat dan memperluas wilayahnya. Hasanuddin dan ayahnya sangat aktif menyebarkan agama Islam saat kerajaan Baku Bajajaran masih beragama Hindu. Hal ini menyebabkan Kerajaan Pajaan Pajajaran di Pakuan menjadi semakin lemah. Hasanudin memperluas wilayahnya ke Lampung dan menikahi Putri Sultan Indrapura.

Setelah Hasanuddin wafat, Pangeran Yusuf diganti sebagai putranya. Pada tahun 1580, Pangeran Yusuf meninggal dan Maulana Muhamad menggantikannya. Di bawah kepemimpinan Maulana Muhamad, ISIS di Banten memperluas wilayahnya hingga Palembang. Saat itu Palembang dipimpin oleh Ki Gede Ing Suryo dari Surabaya dan hampir jatuh ke tangan Negara Islam di Banten. Namun saat perang, Maulana Muhamad tewas dan tentara kembali ke Banten.

Sepeninggal Maulana Muhamad, ia harus digantikan oleh putranya Abdul Mufakir. Namun saat itu Abdul Mufakir baru berusia 5 bulan, maka ISIS di Banten dipimpin oleh mangkubumi. Ketika Abdul Mufakir beranjak dewasa, ia memimpin pangeran Ranamenggala untuk menemani kerajaan dan mengalami masa kejayaan hingga tahun 1600. Kemunduran ISIS di Banten terjadi sejak pemerintahan (Sultan Abdul Mufakkir) yang terus diblokade oleh Belanda, akibatnya ruang lingkup ISIS di Banten berkurang.

Peninggalan sejarah Kerajaan Islam Banten antara lain Masjid Agung Banten, Istana Kraton Kaibon Banten, Istana Kraton Surosowan Banten, Benteng Speelwijk, Danau Tasikardi, Vihara Avalokitesvara, Meriam Ki Amuk, Mahkota Binokasih, Keris Penunggul Naga, Keris Naga Sasra.

8. Kerajaan Islam Banjar

Kerajaan Islam Bangal didirikan di Kalimantan Selatan pada tahun 1520 di bawah kepemimpinan Raden Samudra. Munculnya Kerajaan Islam Banjar terkait erat pada jatuhnya Kerajaan Nagaradaha (Kerajaan Daha) saat itu menguasai wilayah Banjar. Dengan bantuan Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam Banjar mampu menggulingkan Kerajaan Daha. Untuk mendapatkan bantuan dari Kerajaan Demak, Kerajaan Islam Banjar harus mendukung Islam. Pembentukan Islamisasi dilakukan dengan cepat oleh Kerajaan Demak. Suku Bugis di sungai-sungai Kalimantan bagian timur kebanyakan beragama Islam. Di Kerajaan Islam Bangjal, ada seorang ulama yang sangat terkenal yaitu Syekh Mohamed Ayand Banjari.

Sepeninggal Raden Samudra, ia dibunuh oleh Sultan Rahmatura (1545-1570), Sultan Hidayatura (1570-1595), dan Sultan Mustar Birla. (1595-1620), Ratu Agung Ben Marhum (1620-1637), Ratu Anum (1637-1642), Adipati Halid (1642-1660), Amirullah Bagus Kusuma (1660-1663), Pangan Adipati Anum (1663-1679), Sultan Tahlilullah (1679-1700), Sultan Tahmidullah (1700-1734), Pangeran Tamjid bin Sultan Agung (1734- 1759), Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah (1759- 1761), Pangeran Nata Dilaga (1761-1801), Sultan Suleman Al Mutamidullah bin Sultan Tahmidullah (1801-1825), Sultan Adam Adam Al Wasik Billah bin Sultan Suleman (1825-1857), Pangeran Tamjid bin Sultan Agung (1857-1859), Pangeran Antasari (1859-1862) dan Sultan Muhammad Seman (1862-1905), raja terakhir Kerajaan Islam Banjar). Kuil Amuntai dan Masjid Sultan Suryanya.

9. Kerajaan Sukadana atau Tanjungpura

Ibu kota Kerajaan Tanjung Pura telah mengalami beberapa kali perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Beberapa alasan mengapa Kerajaan Tanjung Pura memindahkan ibukotanya terutama karena serangan bajak laut bernama Lanon. Konon tindakan Gang Ranong pada saat itu sangat kejam dan mengganggu. Kerajaan Tanjung Pura dipimpin oleh Sultan Muhammad Zainuddin (1665-1724). Gusti Kesuma Matan atau Giri Mustika atau Sultan Muhammad Syaifuddin / Raden Saradipa / Saradwa (1622-1665) menjadi raja terakhir yang memimpin kerajaan Islam di Sukadana atau Tanjungpura.

Adanya (Negeri Batu) sebuah makam tua di kota yang pernah ditempati Kerajaan Sukadana Bukti peninggalan sejarah Kerajaan Islam Sukadana atau Tanjungpura.

10. Kerajaan Islam Ternate

Maluku memiliki 4 kerajaan yaitu Ternate, Tidore, Obi, dan Bacan. Di antara empat kerajaan, Trant dan Tidal berkembang pesat karena banyaknya sumber rempah-rempah. Kerajaan Islam Ternate berada di Maluku Utara dengan Raja pertama Sultan Marhum (1465-1486). Banyak pedagang mulai berdagang di Kerajaan Ternate, selain berdagang juga menyebarkan agama Islam. Setelah Sultan Mahrum wafat, ia digantikan oleh Sultan Harun. Pada masa pemerintahannya, banyak pedagang Portugis mengalami kesulitan dan ingin menguasai rempah-rempah yang di produksi di Kerajaan Ternate. Terjadi banyak pertempuran antara Portugis dan tentara Kerajaan Ternate. Hingga akhirnya Sultan Harun mencapai kesepakatan damai dengan Portugal. Namun dalam perjanjian damai tersebut, Sultan Harun dijebak dan dibunuh oleh Portugis.

Sultan Baabullah menggantikan ayahnya Sultan Harun. Beliau  sangat marah atas perlakuan Portugis terhadap ayahnya. Tentara Sultan Baabulah melawan Portugis selama 4 tahun, dan akhirnya Portugis mengaku kalah dan harus meninggalkan Kerajaan Ternate. Kerajaan Ternate mencapai jayanya di saat  pemerintahan Sultan Baabulah.

Setelah Sultan Baabulah wafat pada tahun 1583, ia diganti dengan nama lamanya, Sahid Barkat. Namun seiring berjalannya waktu, Kerajaan Ternate runtuh karena tidak mampu melawan Spanyol dan VOC.

Artifak sejarah Kerajaan Islam Ternate adalah Keraton Sultan Ternate, Masjid Jami Sultan Ternate, Makam tua, Alquran yang ditulis oleh raja, tempat sembahyang, takhta, tombak, pedang, senapan. , perisai.

11. Kerajaan Islam Tidore

Kerajaan Islam Tidur terletak di bagian selatan Kerajaan Tenat. Dia berdiri bersama Muhammad Naqil, raja pertama, pada 1801. Islam menjadi agama resmi Kerajaan Tidor, dan karena dakwah pemimpin Arab Sheikh Mansur, Raja Tidor ke-11, Sultan Jamaluddin, mengesahkannya. Kerajaan Tidor juga dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terbesar di Provinsi Maluku. Banyak negara Eropa berdagang di Kerajaan Tidore, seperti Spanyol, Portugal, dan Belanda. Dinasti Sultan Nuku (1780-1805 M), kesejahteraan Islam Tidore mencapai puncaknya.

Spanyol mengekstraksi rempah-rempah dalam jumlah besar dari Tidore dan Ternate, yang membuat kedua kerajaan maju ini saling berperang. Hal ini menyebabkan kedua aliansi tersebut memecah persatuan Maluku. Serikat 5 (= uli-Lima) dipimpin oleh Ternate, dan serikat 9 (= uli-Siwa) dipimpin oleh Tidore. Namun, kedua kerajaan tersebut menyadari bahwa mereka hanya saling berperang dan tidak ingin bermusuhan dengan negara mereka sendiri. Karena itu, mereka bergabung untuk mengusir Spanyol dari Maluku. Namun kemenangan tersebut hanya bersifat sementara, dikarena VOC menaklukan Maluku menggunakan strategi yang apik, tertib, dan ampuh. Warisan sejarah dari Islamic Kingdom of Tidal adalah Tal Fort of Tidal Palace.

12. Kerajaan Islam Makassar

Di Provinsi Sul-Sel memiliki deretan kerajaan yaitu Gowa, Bone, Waju, Luwu, Tallo, dan Soppeng. Namun Kerajaan Gowa dan Tallo mengalami perkembangan pesat. Karena Gowa dan Tallo terletak di tengah jalur transportasi. Oleh karena itu, raja dari kedua kerajaan yang maju memutuskan untuk bergabung dan mendirikan Kerajaan Islam Makassar, raja pertama adalah Sultan Alaudine. Kerajaan Islam Makassar juga aktif menyebarkan agama Islam. Kerajaan Islam Makassar mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654-1669). Sultan Hasanuddin adalah cucu dari Sultan Alauddin. Akan tetapi, Belanda tidak melepaskan keinginannya untuk menguasai Kerajaan Makassar. Sultan Hasanuddin sangat gigih dan kuat menghadapi Belanda.

Ketika terjadi konflik antara Sultan Hasanuddin dan Aru Palaka (Raja Bone dan Raja Soppeng), Belanda terbiasa berperang. Belanda memihak Aru Palaka dan melawan Sultan Hasanuddin. Dalam perang ini, Makassar hampir jatuh ke tangan Belanda dan Aru Palaka, sehingga perjanjian damai ditandatangani oleh Sultan Hasanuddin pada tahun 1667. Yakni “Perjanjian Bongaya”.

Kalaupun mereka menandatangani perjanjian damai, Belanda tetap licik dan kembali menyerang Makassar. Pada tahun 1669, Sultan Hasanuddin menyerah kepada Belanda dan menjadi awak kapal untuk menghancurkan Kerajaan Islam Makassar. Peninggalan sejarah Kerajaan Islam Makassar adalah Fort Fort, Fort Rotterdam, Batu Palanticum, Masjid Katangka, Makam Katangka, dan Makam Sheikh Youssef.

Banyak kerajaan Islam berpartisipasi dalam penyebaran Islam. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus umat Islam, kita juga harus aktif melaksanakan perintah Allah SWT dan menghindari pelarangannya.

Berita Agama