Bangunan Percandian dari Peninggalan Agama Budha di Indonesia

Bangunan Percandian dari Peninggalan Agama Budha di Indonesia

www.do-not-zzz.comBangunan Percandian dari Peninggalan Agama Budha di Indonesia. Agama Buddha yang masuk ke Indonesia sejak abad ke-2 M telah mempengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat, seperti kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya Indonesia, serta mengubah kepercayaan penduduk Indonesia dari animisme dan dinamika menjadi kepercayaan Hindu. Sidharta Gautama. Agama Buddha di saat itu mewarisi beberapa bangunan bersejarah tinggi yaitu candi-candi yang tersebar di pulau Jawa dan sekitarnya.

Candi merupakan salah satu karya seni tiga dimensi yang digunakan pada kediaman nyata para dewa yaitu Gunung Mahameru, oleh karena itu seni arsitekturnya diberi bermacam ukiran serta diukir dalam bentuk pola ragam hias yang menyesuaikan dengan alam itu sendiri (Gunung Mahameru). Sebuah candi biasanya mengacu pada bangunan keagamaan, di mana benda-benda suci agama kuno tersebut berasal dari peradaban Budha.

Percandian sering digunakan menjadi tempat pemujaan Sang Buddha. Ada juga, istilah candi tak hanya dipakai oleh masyarakat untuk menamai sebagai tempat peribadatan saja, melainkan banyak situs arkeologi non-religius dari zaman Buddha klasik di Indonesia yang dinamakan candi.

Ciri candi Budha:

  1. Di bagian atas candi terdapat pagoda, seperti abu, tulang, kuku, rambut atau gigi, yang diyakini milik Buddha Sakyamuni / biksu terkenal / keluarga kerajaan Buddha,
  2. Keberadaan Buddha Sakyamuni
  3. Ada relief yang menceritakan ajaran Buddha
  4. Bentuk gedung bertingkat seringkali sangat gemuk
  5. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat peribadahan
  6. Bangunan candi terbagi menjadi 3 yaitu kamadatu, rupadatu dan arupadatu
  7. Ada kera pada pintu candi, mulutnya terbuka, ada maca ganda di setiap sisi pintu tanpa rahang.
  8. Candi induk berada di tengah candi-candi kecil, seperti Borobudur

Berikut beberapa candi peninggalan Budha di Indonesia:

1. Candi Borobudur

Borobudur adalah candi peninggalan Buddha dan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Candi ini terletak di Magelang, Provinsi Jawa Tengah, sekitar 100 kilometer barat daya Kota Semarang, sekitar 40 kilometer barat laut Yogyakarta, dan 86 kilometer barat Surakarta. Candi Borobudur dibangun oleh penganut Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra dari Kerajaan Mataram sekitar 800 Masehi.

Candi Borobudur memiliki enam anak tangga, bagian bawah berbentuk persegi, dan tiga lantai teratas berbentuk bulat. Di bagian atas candi terdapat stupa induk yang terletak di tengah candi, dan di bagian atas candi dikelilingi oleh tiga baris 72 stupa berlubang, di dalamnya terdapat arca Buddha yang duduk bersila di dalamnya. posisi lotus yang sempurna, Dharmachakra mudra (memutar roda Dharma).

Baca Juga: Mengenal Lebih Dalam Mekkah

Candi Borobudur adalah sebuah batu yang dibangun sebagai tempat suci menurut ajaran Buddha untuk memuji Sang Buddha dan sebagai tempat ziarah untuk membimbing manusia. Kini, Candi Borobudur juga dijadikan sebagai objek wisata dengan jumlah wisatawan terbanyak.

2. Candi Mendut

Candi yang memiliki tinggi 26,4 meter ini terletak di Jalan Walikota Kusen Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Letak candi ini sekitar 3 kilometer dari Candi Borobudur dan diyakini telah selesai dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra Indra sekitar 824 Masehi. JG arkeolog Belanda de Casparis menemukan jejak candi ini pada tahun 1908.

Dalam prasasti Karangtengah, Raja Indra membangun sebuah bangunan suci yang disebut veluvana yang artinya hutan bambu. Candi ini dihiasi dengan ukiran bidadari, dua ekor monyet dan seekor burung rajawali serta makhluk surgawi lainnya. Aula ini terbuat dari batu bata, dilapisi dengan batu alam, dan terletak di ruang bawah tanah yang lebih tinggi.

Tangga naik dan pintu masuk ke kuil menghadap ke barat daya. Atap candi berupa bangunan tiga lantai, dihiasi 48 stupa kecil. Di bagian atas basement terdapat koridor yang mengelilingi tubuh candi. Pada bagian depan patung Budha terdapat relief berbentuk roda dengan sepasang rusa yang melambangkan patung Budha di bagian sampingnya. Di sebelah kiri adalah arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan di sebelah kanan adalah arca Wajrapāņi. Relief yang muncul berupa ukiran Brahman dan kepiting; angsa dan kura-kura; Dharmabuddhi dan Dustabuddhi serta dua jenis burung beo.

3. Candi Ngawen

Candi Ngawen terletak di desa Ngawen di Magelang dan dibangun pada masa pemerintahan kerajaan Mataram kuno oleh Dinasti Syailendra. Candi ini terdiri dari dua buah candi kecil yang dihiasi dengan patung singa di keempat sudutnya. Relief pada bagian samping candi diukir Kinnara, Kinnari dan kala-makara. Candi ini dibangun pada abad ke-8 oleh Kerajaan Mataram Kuno sekitar 824 M oleh Dinasti Syailendra.

4. Candi Lumbung

Candi Lumbung dibangun pada abad ke-9 M pada masa Kerajaan Mataram Kuno, berdekatan dengan Candi Klaten Bubrah. Candi Long Bang merupakan kumpulan candi-candi besar bertema Budha, terdapat 16 candi kecil di sekitarnya yang kondisinya relatif baik, banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke candi tersebut.

5. Candi Banyunibo

Candi Banyunibo dibangun pada masa kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9, dengan stupa di bagian atasnya yang merupakan simbol corak candi Budha. Candi Banyunibo (artinya tetesan air dalam bahasa Jawa) terletak di bagian timur Yogyakarta, tidak jauh dari Candi Ratu Boko. Ciri di sini adalah relief Kalamakara. Candi yang memiliki ruang tengah ini pertama kali ditemukan dan dipugar pada tahun 1940-an dan kini berada di areal persawahan.

6. Candi Muara Takus

Candi Muara Takus yang tersusun dari bebatuan sungai, batu pasir, dan batu bata ini terletak di Desa Muara Takus di Riau, 134 kilometer sebelah barat Kota Pekanbaru. Ada beberapa bangunan candi di dalamnya, yaitu Candi Sulung / Tua, Bungsu, Mahligai dan Palangka. Para ahli belum bisa memastikan secara pasti kapan candi ini dibangun, namun candi tersebut diyakini telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya.

Percandian tertua di Sumatera ini dibungkus tembok berukuran (74X74 M) serta tembok dari tanah 1,5X1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks kompleks tersebut dan mengalir sampai ke pinggiran Sungai Kampar Kanan di Kota Riau. Kuil ini dinominasikan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2009

7. Candi Brahu

Kuil Buahu dibangun pada abad ke-15 M dengan gaya dan budaya Buddha. Kuil Budha ini digunakan sebagai krematorium mayat raja-raja Brawijaya. Candi yang merupakan salah satu candi yang berada di dalam Situs Purbakala Trowulan ini terletak di dalam kompleks Vihara Desa Bejijong dan Patung Buddha Tidur di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sejarah Budha Berbaring tidak jauh berbeda dengan sejarah Candi Bulahu.

Candi yang berasal dari kata wanaru atau warahu ini dibangun dari batu bata merah, menghadap ke barat, panjangnya sekitar 22,5 m, lebar 18 m, dan tinggi 20 m. Ada beberapa candi kecil di sekitar candi ini, yaitu Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah dan Candi Gentong.

8. Kompleks Percandian Batujaya

Kompleks Candi Batujaya merupakan kompleks peninggalan candi Budha kuno yang terletak di Kecamatan Batujaya, Kota Karawang, Jawa Barat. Kecuali sisa bangunan di situs Candi Blandongan, keistimewaan candi ini hanya bisa ditemukan di kaki atau paling bawah bangunan. Candi-candi tersebut sebagian besar berada di bawah tanah, berupa gundukan.

9. Candi Sumberawan

Candi Sumberawan hanya berupa stupa kaki dan badan yang terletak di Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kota Malang, sekitar 6 kilometer dari Candi Singosari. Candi yang terbuat dari bahan andesit dengan panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, dan tinggi 5,23 m ini dibangun di kaki Gunung Arjuna pada ketinggian 650 meter. Candi ini dikelilingi oleh danau yang jernih, sehingga candi ini sering disebut Candi Rawan.

Di bagian bawah candi berdiri sebuah stupa segi delapan berbentuk segi empat dengan bantalan padma, di puncaknya terdapat sebuah gepeng atau stupa yang ujungnya hilang. Diceritakan candi ini pada pembangunan awal untuk peribadatan. Bentuk pagoda di candi ini menunjukkan latar belakang agama Buddha.

10. Candi Sewu

Candi Sewu (Manjusri Grha) adalah biara Budha terbesar kedua setelah Candi Borobudur yang terletak di Candi Prambanan. Diperkirakan Candi Sewu dibangun pada abad ke-8 oleh Raja Rakai Panangkaran (746-784) di Kerajaan Mataram Kuno. Sebenarnya hanya ada 249 candi yang ada di candi tersebut, namun karena legenda Roro Jonggrang, karena banyaknya jumlah candi maka candi ini dinamakan Candi Sewu (Ribuan Candi). Lokasi Candi Sewu terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kota Kradenan, Jawa Tengah.

Menurut Prasasti Kelurak dan Prasasti Manjusrigrha, nama asli candi ini adalah “Prasada Vajrasana Manjusrigrha”. Prasada berarti kuil atau tempat suci, Vajrasana berarti tempat yang diperintah oleh Wajra (berlian atau kilat), dan Manjusri-grha berarti rumah Manjushri, salah satu ajaran Buddha Bodhisattva.

11. Candi Kalasan

Candi Kalibening juga di sebut Candi Kalasan termasuk percandian Budha berada di Kalasan daerah Sleman, Yogyakarta. Candi ini terdapat 52 stupa yang dipergunakan untuk memperingati Tarabhawana Bodhisattva serta diperuntukan untuk (Rakai Panangkaran) Maharaja Tejapurnapana Panangkaran. Arca keluarga Syailendra yang dibangun pada tahun 778-Masehi. Candi setinggi 24 m ini memiliki pondasi berbentuk salib Yunani, diukir dan dilapisi getah, digunakan sebagai pelindung lumut.

12. Candi Bahal

Candi Bahar yang dibangun dari bahan bata merah ini merupakan kompleks candi Budha yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Candi ini memiliki 3 Biaro Bahal yang saling terhubung dan membentuk garis lurus. Terbuat dari bata merah, kecuali arca yang terbuat dari batu keras. Kuil ini berasal dari Kerajaan Panna (sebuah pelabuhan di sepanjang Selat Malaka), dan dikelilingi oleh papan kayu dengan sosok penari Jacarian yang dipimpin oleh seekor binatang. Di sisi timur candi terdapat sebuah pintu yang menjorok ke luar, dengan tinggi dinding sekitar 60 cm di setiap sisinya.

13. Candi Pawon

Candi Pawon adalah nama sebuah candi Budha yang terletak di antara Candi Mendut dan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang. Candi ini dibangun pada masa kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-826. Bagian depannya bercirikan 3 foto, banyak di antaranya dihiasi stupa dan 2 jendela kecil di belakang dinding. Dinding luar Candi Pawon dihiasi dengan relief pohon hidup (kalpataru), dengan brankas dan kinara-kinari (makhluk setengah manusia setengah burung / kepala manusia, badan burung) di kedua sisinya.

14. Kompleks Candi Muaro Jambi

Kompleks biara Muara Jambi merupakan kompleks biara Budha terbesar di Indonesia dan merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Kompleks candi ini berdiri sejak abad ke-11 M dan terletak di distrik Muara Sebo Kabupaten Muara Jambi di Jambi. Sejak 2009, kompleks Candi Muaro Jambi dinominasikan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Pemandian Muaro Jambi terletak di tanggul alam purba Sungai Batanghari, luasnya 12 kilometer persegi, panjangnya lebih dari 7 kilometer, dan membentang di sepanjang sungai 260 hektar. Kompleks candi ini berisi 61 buah candi yang sebagian besar masih eksis dalam bentuk gundukan tak berkulit (ditempati) (menapo).

15. Candi Plaosan

Candi Plaosan merupakan nama kompleks Candi Dusun Plaosan di Klaten, Jawa Tengah. Kompleks candi yang dibangun oleh Raja Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan pada abad ke-9 pada masa kerajaan Mataram Kuno ini memiliki arca dan pagoda berupa candi pembantu (kecil). Kompleks ini terdiri dari Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul yang dikelilingi oleh 116 stupa pewara dan 50 candi pembantu.Ada 6 arca di candi induk.

Baca Juga: Mengenal Negara-Negara Muslim di Dunia dan Tempat Peribadatan

16. Candi Sari

Candi ini merupakan percandian Budha yang terletak di timur laut kota Yogyakarta, tak jauh dari Candi Kalasan serta Candi Prambanan dan cukup dekat dengan Bandara Adisucipto. Candi ini dibangun sekitar abad ke-8 sampai abad ke-9, dengan 9 stupa yang disusun dalam 3 baris sejajar. Bentuk bangunan candi dan ukiran relief pada dinding candi sangat mirip dengan Candi Plaosan. Pagoda ini digunakan sebagai tempat meditasi bagi para biksu Buddha (biksu) dan juga sebagai tempat belajar bagi para biksu.

17. Candi Sojiwan

Candi Sojiwan adalah candi Budha yang terletak di Desa Kebon Dalem Kidul, Jalan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini menampilkan 20 relief di kaki candi, yang berhubungan dengan kisah Pancatantra dan Jataka di India. Kuil Zhongoji dibangun antara 842 dan 850 Masehi. Nama candi ini diambil dari nama Ratu Nini Haji Rakryan Sanjiwana (Ratu Nini Haji Rakryan Sanjiwana), yang dipercaya sebagai biara Budha.

Kompleks candi menghadap ke barat, dengan luas total 8.140 meter persegi dan tinggi 27 meter. Di bagian bawah candi ini, bagian bawah candi dan sisi timur undakan candi terdapat pahatan relief dongeng tentang kisah binatang Jataka, diapit oleh arca Makara. Ada gerbang berukir di bagian atas tangga.

18. Candi Sanggrahan

Candi Sanggrahan adalah candi Budha yang terletak di Desa Sanggrahan di Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Candi peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit ini berbentuk bujur sangkar dan dibangun sekitar tahun 1350. Dulunya, candi ini merupakan tempat penyimpanan abu kerabat Raja Majapahit. Kaki candi setinggi dua meter dan memiliki dinding relief harimau. Ada reruntuhan batu dengan gerbang di tangga.

20. Candi Jago

Candi Jago dibangun pada tahun 12 Masehi dan terletak di Kabupaten Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Candi Jago yang dibangun di Kerajaan Singasari ini memiliki beberapa ciri relief Kunjarakarna dan Pancatantra. Akibat sambaran petir, hanya sebagian bagian atas candi yang tersisa. Candi ini terbuat dari bahan andesit, disusun menyerupai teras berlubang, dengan panjang undakan 23,71 m, lebar 14 m, dan tinggi 9,97 m.

20. Kompleks Percandian Batujaya

Kompleks Batujaya Percandian merupakan sisa-sisa candi Budha kuno yang terletak di tengah persawahan, sebagian dekat dengan pemukiman penduduk, tidak jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (Ujung Karawang), Kecamatan Batujaya, Karatu, Jawa Barat. Tempat ini disebut candi karena terdiri dari sekumpulan candi yang tersebar di beberapa titik. Luas candi ini 5 kilometer persegi, baik musim kemarau maupun musim hujan tidak akan kering sepanjang tahun.

21. Candi Jiwa

Struktur atas candi berbentuk seperti bunga teratai, dengan susunan melingkar di bagian tengah dan tidak berundak. Bangunan Candi Jiwa terbuat dari batu bata. Kata jiwa berasal dari esensi unsur (termasuk gundukan candi) yang dianggap memiliki “jiwa”. Beberapa prasasti tulisan kaligrafi telah ditemukan di candi ini, dan mirip dengan tipologi penemuan arkeologi, seperti keramik Cina, gerabah, prasasti persembahan, lepo (plesteran), patung plesteran hiasan dan bangunan bata.

22. Candi Bojongmenje

Candi Bojongmenje adalah sebuah kompleks Budha kuno peninggalan zaman pra Islam Jawa Barat yang terletak di Dusun Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Bandung, Jawa Barat. Lokasi tersebut berada di dekat kawasan industri, sehingga kelangsungan hidupnya terancam. Candi Bojongmenje diyakini berukuran sekitar 6 meter kali 6 meter, dan diduga masyarakat telah membangun pura yang serupa sebagai tempat peribadatan.

23. Candi Bubrah

Candi Bubrah merupakan salah satu candi Budha di Taman Wisata Candi Prambanan yang terletak diantara Candi Rara Jonggrang dan Candi Sewu. Candi ini terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Kraden, Jawa Tengah. Candi ini dinamakan “Bubrah” karena ditemukan dalam keadaan rusak (Bubrah, provinsi Jawa).

Candi ini dibangun pada zaman kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-9. Candi ini berukuran 12 mx 12 m, terbuat dari bahan andesit, dan tinggi selebihnya hanya 2 meter. Saat ditemukan, masih ada beberapa arca Buddha, meski sudah tidak lengkap lagi.

24. Candi Gampingan

Candi Gunggung merupakan kompleks candi Budha yang terletak di Dusun Gunggung, Bantul, Yogyakarta. Candi ini dibangun sekitar abad ke-8 dan ke-9 di kerajaan Mataram Kuno. Ketika tukang batu menemukan candi tersebut pada tahun 1995, candi tersebut masih terkubur di dalam tanah. Meski sampai saat ini belum sepenuhnya dipugar, kompleks reruntuhan candi tersebut masih memiliki 7 candi yang belum selesai dibangun, dengan ukuran bangunan induk sekitar 5 mx 5 m dan tinggi 1,2 m.

Di candi ini terdapat tiga buah arca Dhyani Buddha Wairocana yang terbuat dari perunggu, dua buah arca Jambhala dan Candra Lokeswara yang terbuat dari bahan andesit, benda-benda emas dan beberapa keramik. Di kaki candi terdapat relief katak dan unggas. Candi ini merupakan tempat pemujaan bagi agama Buddha Mahayana, karena terdapat patung Buddha Chambala dan Dhyani Wairocana dari sekte Buddha Mahayana.

25. Situs Ratu Boko

Reruntuhan Ratu Boko atau Candi Boko adalah sebuah situs purbakala, sebuah kompleks peninggalan bangunan di atas bukit pada ketinggian 196 meter, dengan luas total sekitar 25 hektar. Candi Boko terletak 3 kilometer selatan kompleks Candi Prambanan, 18 kilometer timur Yogyakarta, atau 50 kilometer barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Percaya bahwa Ratu Boko pernah digunakan oleh Syailendra (Rakai Panangkaran) Wangsa dari Kerajaan Medan (Mataram Hindu) pada abad kedelapan.

Candi ini bukanlah candi religius, melainkan istana berbenteng. Sisa-sisa dinding benteng juga ditemukan di dekat lokasi. Parit-parit kering digunakan sebagai jejak bangunan pertahanan dan sisa-sisa permukiman. Ratu Baka (bahasa Jawa, artinya: Raja Bangau) adalah ayah dari Roro Jonggrang dan digunakan sebagai nama candi utama dalam kompleks Candi Prambanan, sehingga kompleks tersebut terkait dengan cerita rakyat setempat Roro Jonggrang. Sejak 1995, candi ini dinominasikan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

26. Candi Tikus

Candi Tikus adalah pemandian ritual (petirtaan), penemuan arkeologi Trowulan yang paling menarik. Dinamakan “Candi Tikus” karena ditemukan pada tahun 1914 candi berubah menjadi sarang tikus, kemudian dipugar pada tahun 1985 dan 1989. Candi ini berupa wadah persegi yang terbuat dari batu bata merah. Di sisi utara candi terdapat tangga menuju ke dasar kolam, namun bangunannya sudah tidak lengkap lagi dan diganti dengan teras bujur sangkar dengan puncak menara. Dinding selatan bangunan utama candi diyakini berupa Gunung Mahameru yang legendaris.

27. Candi Menak Jingga

Di sudut timur laut Telaga Segaran terdapat reruntuhan candi Menak Jingga berupa bebatuan berserakan dan pondasi bangunan, namun masih tertimbun tanah. Saat ini, pemugaran candi sedang dalam proses. Lapisan luar candi ini adalah batu andesit, lapisan dalamnya adalah bata merah, dan bagian atasnya diukir dengan unicorn unicorn dari mitologi Cina. Ini menunjukkan bahwa ada hubungan budaya yang kuat antara Maya Pacht dan Dinasti Ming di Tiongkok.

28. Candi Mahligai

Candi Mahligai merupakan bangunan candi yang lengkap, terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan dan atap. Candi memiliki alas berbentuk persegi panjang dengan ukuran 9,44 m x 10,6 m, dan 28 sisi mengelilingi bagian bawah candi. Ada hiasan teratai ganda berbentuk bulat di bagian bawah candi, menara berbentuk silinder di tengah, dan 36 sisi berbentuk kelopak di bagian bawah menara. Di empat penjuru pondasi terdapat 4 singa duduk yang terbuat dari bahan andesit.

29. Candi Tua

Candi Tua atau Candi Sulung adalah bangunan terbesar di situs Candi Muara Tikus. Bangunan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki-kaki, badan induk, dan atap. Terdapat tangga menuju candi di sisi barat dan timur, dihiasi dengan patung singa masing-masing berukuran 3,08 m dan lebar 4 m. Pondasi candi memiliki 36 sisi yang mengelilingi alas, berukuran 31,65 m x 20,20 m. Bagian atas gedung ini berbentuk lingkaran, dan tidak ada ruang kosong di dalamnya. Candi ini terbuat dari batu bata, dan ditambahkan batu pasir untuk membuat sudut-sudut bangunannya.

30. Candi Bungsu

Bentuk Candi Bungsu tidak jauh berbeda dengan Candi Sulong, tetapi puncaknya berbentuk persegi panjang. Terletak di sisi barat Candi Mahligai, candi ini berukuran 13,20 x 16,20 meter, dengan stupa kecil dan tangga batu putih di sebelah timur. Pondasi candi ini memiliki 20 sisi, dengan permukaan datar di atasnya, dan diatasnya terdapat bunga teratai.

31. Candi Palangka

Candi ini terletak di sebelah timur candi Mahligai, dengan ukuran candi 5,10 meter x 5,7 meter dan tingginya sekitar 2 meter. Candi ini terbuat dari batu bata dan memiliki pintu masuk yang menghadap ke utara, yang dulunya digunakan sebagai altar.

Berita Agama