Islam & Adat Praktik Keagamaan Muslim Bugis di Sulsel

Islam & Adat Praktik Keagamaan Muslim Bugis di Sulsel

www.do-not-zzz.comIslam & Adat Praktik Keagamaan Muslim Bugis di Sulsel. Secara agama, upaya untuk mengkompromikan Islam dan Adat sangat umum di kalangan Muslim Indonesia. Situasi ini memberikan penjelasan atas belum lengkapnya pemahaman dan pengamalan ajaran Islam di kalangan umat. Selalu ada sisi lemah dalam memahami Islam, pada saat yang sama, akibat serangan sengit dari kekuatan luar yang kuat, kelemahan institusi Islam secara langsung mempengaruhi keinginan untuk lebih memahami ajaran Islam. Hal ini terlihat dari pengaruhnya terhadap praktik keagamaan umat Islam yang tingkat pemahamannya rendah terhadap ajaran Islam. Misalnya di kalangan Muslim Bugis, hal ini terlihat jelas dalam berbagai peristiwa. Faktanya, lebih sulit untuk mengatakan apakah adat itu adalah adat agama (Islam) atau bagian dari adat atau tradisi di luar Islam.

Islam dan Adat telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Bugis (Hasse 2018; Pelras 2006). Dalam semangat orang Bugis untuk mengamalkan Islam, mereka juga ngotot mempertahankan adat istiadat. Biasanya ada kontradiksi. Ini karena mereka dikenal sebagai penganut Islam yang fanatik dan sangat setia pada Adat. Dalam praktek kehidupan, adat istiadat dan Islam tidak hanya saling bertentangan, tetapi juga saling bertentangan. Adat memang warisan nenek moyang kita yang dianggap memiliki fungsi luhur dan oleh karena itu dilestarikan karena menjadi penunjuk kebahagiaan dunia (Abdullah 1999). Seperti halnya agama, agama juga dianggap sebagai media untuk memenuhi kebutuhan internal dan tangan yang bernilai tinggi, yang dapat membimbing umatnya ke arah yang benar.

Adat istiadat Islam di kalangan Muslim Bugis secara bertahap membentuk sikap agama yang fana. Fanatisme ini juga bisa disamakan dengan fanatisme masyarakat Aceh, Banjar, Betawi dan Banten dalam mengamalkan Islam dalam kehidupannya. Ketaatan mereka bisa dilihat melalui praktik beribadah dan menyambut hari raya Islam dengan hangat. Misalnya, orang Bugis sangat senang berpuasa dan berziarah. Padahal, ibadah haji seharusnya bernuansa ibadah, namun ditampilkan dalam nuansa yang lebih tradisional di kalangan Muslim Bugis karena menyebarkan adat istiadat yang jauh melampaui tuntunan agama. Misalnya, mereka yang berziarah dalam kehidupan sosial memiliki “kedudukan” (dibaca: status) yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum. Padahal, kedatangan jamaah tidak ada bedanya dengan kedatangan tamu besar dan harus dirayakan. Ini bisa dilihat pada dua sisi yang berlawanan dan juga bisa saling mendukung. Sebab perilaku ini diwujudkan dalam konteks mengagumi tamu yang menyembah Tuhan di satu sisi. Pada saat yang sama, kecenderungan ini sebenarnya bersumber dari esensi ibadah yang salah satunya membuat orang menjadi lebih rendah hati, tidak boros, dan sebagainya. Dalam praktik ini terlihat bahwa Adat dianggap sebagai agama, dan agama tersebut menghilang dalam satu peristiwa.

Baca Juga: 10 Perintah Allah dalam teologi Katolik

Artikel ini menggali lebih dalam tentang kompromi antara Adat dan agama dalam praktik Muslim Bugis. Bagaimana tingkat konflik dan kompromi antara Adat dan agama antara Bugis? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka penelitian artikel ini didasarkan pada hasil metode kualitatif, dimana proses data mining difokuskan pada observasi langsung penulis dan tinjauan pustaka terhadap kehidupan komunitas muslim di Bukinisi, Sulawesi Selatan. Namun perlu dicatat di sini bahwa sebagian isi artikel ini telah diterbitkan dalam bentuk buku (kumpulan karya), namun publikasi tersebut telah direvisi dan ditambah berkali-kali dari segi konten dan teknologi (termasuk literatur) .

Guna membantu pembaca memahami, sebelum memberikan narasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, artikel ini terlebih dahulu menguraikan tentang identitas Bugis, mengenalkan proses Islam dan dinamika Islam di dalamnya. Selain itu, artikel ini juga akan membahas tentang isu Islamisasi pada awal Islamisasi di wilayah Bugis yang menunjukkan pro dan kontra terhadap Bugis.

Identitas Orang Bugis: Sebuah kelompok etnis yang tinggal di Sulawesi Selatan (sekarang dikenal sebagai Sulawesi Selatan). Suku Bugis merupakan kelompok etnis terbesar, terhitung 41,90% dari populasi Sulawesi Selatan (Suryadinata et al., 2003: 65). Di Sulsel sendiri, selain Bugis diharapkan juga ada Kasai, Torah dan Manda. Mandar kini terletak di Sulawesi Barat setelah pemekaran wilayah. Daerah tempat tinggal orang Bugis antara lain Bone, Soppeng, Wajo, Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu, Parepare, Barru dan Sinjai. Sementara itu, sebagian Bugis dan Makassar dihuni oleh Maros, Pangkajene Kepulauan, Bantaeng, dan Bulukumba. Sedangkan untuk daerah seperti Tana Toraja, Bugis adalah minoritas.

Ada dua poin utama tentang asal-usul orang Bugis (ke Uji). Pertama, Bugis berasal dari belakang India dan ras lain di Nusantara. Menurut pendukungnya, umat Hindu menyapu pulau itu ribuan tahun yang lalu. Menurut pandangan ini, Bugis tergolong keluarga atau keturunan dari pemuda Melayu (Deutero Melayu) yang datang ke Sulawesi Selatan. Sebelum mereka tiba, orang-orang Melayu tua (Proto Melayu) terlebih dahulu masuk ke daerah itu (Hamzah 1984: 34-35). Pandangan ini juga didukung oleh fakta bahwa saat ini banyak ragam Bugis di beberapa daerah Melayu, seperti Sumatera dan Kalimantan, bahkan di Malaysia. Pendapat pertama ini juga mendukung hipotesis bahwa Islam masuk ke Indonesia dari India.

Kedua, Bugis adalah sekelompok orang Nanyang yang tersebar di berbagai belahan Asia Tenggara (Pelras 2006). Perkembangan dan pertumbuhan keluarga ini melahirkan ras-ras seperti Melayu, Bali dan Jawa. Namun, mereka lebih terkenal daripada Bugis. Pada abad ke-19, penyebaran Bugis telah merambah dari Singapura hingga Singapura, mulai dari selatan Filipina hingga pantai barat Australia. Konon pula orang Bugis menyeberangi Samudera Hindia hingga Madagaskar, sehingga nenek moyang mereka masih bisa ditelusuri kembali ke daerah-daerah tersebut. Dari informasi tersebut, orang juga mengatakan bahwa orang Bugis pada masa itu adalah pelaut karena mampu mengarungi lautan dengan sarana transportasi yang terbatas. Pandangan ini banyak dijadikan acuan asal muasal orang Bugis.

Meski berbeda pandangan, namun dua pandangan di atas setidaknya memberikan gambaran tentang asal-usul orang Bugis. Tidak hanya masalah asal, batasan siapa yang menjadi orang Bugis juga sulit ditentukan. Untuk mendefinisikan Bugis, penulis meminjam kerangka kerja yang digunakan oleh Mohammad Damami (2002) untuk menguraikan definisi masyarakat Jawa. Menurutnya, orang Jawa adalah orang Jawa dan masih hidup dalam budaya Jawa, baik yang tinggal di Jawa maupun di luar Jawa. Dari sudut pandang tersebut maka dapat dikatakan bahwa Bugis adalah orang-orang yang berhubungan dengan budaya Bugis, baik yang tinggal di Sulawesi Selatan maupun yang tinggal di luar daerah. Pengertian tersebut meliputi bahasa dan silsilah atau genealogi Bugis.

Penyebaran suku Bugis yang bisa menjangkau berbagai daerah di luar Sulawesi Selatan membuat mereka kerap dikenali oleh para pelaut terampil. Informasi tersebut adalah informasi yang salah. Dasarnya adalah bahwa kegiatan maritim Bugis baru berkembang pada abad ke-18. Perahu pinus yang sering menempel di laut Bugis ditemukan antara akhir abad ke-19 dan 1930-an (Pellas 2006: 4). Begitu pula dengan gelar bajak laut yang diberikan kepada Bugis salah. Padahal, Bugis adalah petani ulet. Kegiatan bahari hanya disukai oleh masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, dan jumlahnya lebih sedikit dibandingkan Bugis yang hidup di darat / pegunungan. Kebanyakan orang Bugis jauh dari laut, dan sebagian besar adalah petani padi. Kebiasaan orang Bugis untuk bermigrasi dan menetap di negara lain mungkin menjadi pendorong utama bagi mereka untuk menganggap diri mereka pelaut.

Bagi kelompok etnis yang tinggal di sekitar komunitas Bugis, mereka menganggapnya sebagai orang yang berkarakter kuat dan terhormat. Bahkan demi kehormatan (siri ‘), Bugis rela melakukan kekerasan. Karena “siri” adalah salah satu jenis harga diri yang harus dijaga. Karakter bandel adalah ciri khas orang Bugis karena mereka menuntut keberanian untuk mempertahankan sesuatu dan keberanian menghadapi tantangan (Rustan 2018). Selain sifatnya yang kejam, mereka juga sangat menghormati orang lain dan bersatu menjadi satu. Di berbagai wilayah nusantara, Bugis dapat dijumpai dalam berbagai bentuk kegiatan. Mereka disibukkan dengan transportasi, perdagangan, pertanian dan berbagai pekerjaan lainnya.

Suatu Konseptual Singkat: Adat adalah sesuatu yang berulang dan cenderung dipertahankan dalam kelompok / komunitas. Di beberapa komunitas, Adat memainkan peran penting bahkan mengalahkan agama dalam masalah ritual. Adat adalah aturan tentang kehidupan manusia yang disepakati oleh penduduk suatu daerah untuk mengatur perilaku anggotanya sebagai kelompok sosial (Said 2004: 25). Dalam Islam, kata “adat” biasanya sejajar dengan “urf”, yang juga berarti adat istiadat atau kebiasaan. Kebiasaan mengacu pada hal-hal yang berulang, biasanya dalam pola tertentu berdasarkan kesepakatan komunitas / kelompok. Area data sama dengan area lainnya, tetapi ada beberapa perbedaan. Misalnya, pengikut Khalwatiah Tarekat di Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa di beberapa komunitas, perayaan maulid nabi berskala besar. Setiap tahun, mereka merayakan Maulid Nabi di Maros, Sulawesi Selatan. Menurut mereka, Maori (bukan orang Afrika / efektif) hanya merayakan di desanya sendiri, bukan di tempat ini.

Terminologi Islam dapat dipahami setidaknya berkaitan dengan dua aspek utama, yaitu identitas dan ajaran. Sebagai identitas, Islam adalah nama agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui para malaikat Allah. Islam sebagai doktrin atau agama terbukti memiliki peran penuntun, sehingga manusia dapat menentukan apa yang baik, apa yang buruk, apa yang benar, dan apa yang kesia-siaan (Karim 2007: 27). Ajaran Islam dengan jelas dan tidak ambigu terkandung dalam Alquran. Di buku ini, Anda bisa menemukan semua ajaran Islam. Secara bahasa, kata Islam berasal dari aslama, yuslimu, dan islaam. Kata ini memiliki banyak arti, salah satunya adalah ketundukan (lahir batin). Dengan kata lain, Islam mencakup makna sikap yang berkaitan dengan ketaatan, ketaatan, dan penyerahan total kepada Hukum Allah.

Dalam kehidupan orang Bugis di Sulawesi Selatan, Islam dan Adat kerap muncul dalam sebuah acara di waktu yang bersamaan. Misalnya untuk merayakan hari raya Islam, kedua entitas ini biasanya tampil bersama dan sulit dipisahkan. Kebiasaan ini tidak hanya terjadi pada komunitas Bugis, tetapi juga pada komunitas Muslim di berbagai tempat, di mana ditemukan kesamaan pandangan. Misalnya di Gorontalo, umat Islam memadukan Islam dan adat istiadat saat merayakan Isra’mi’raj. Hal tersebut terlihat kuat pada perayaan Isra Mi’raj (Tohopi 2012) dimana umat Islam membaca teks klasik lokal. Bagi penulis hal ini merupakan bagian dari dinamika Islam dalam masyarakat muslim khususnya masyarakat muslim di Indonesia yang tidak berbeda dengan tradisi pra islam. Meskipun Islam telah menjadi agama resmi dan rujukan utama umat Islam, masih ada ruang untuk praktek mengakomodasi dan mempromosikan Islam dan Adat.

Baca Juga: Pandangan Islam Tentang Konsep Belajar

Proses Pengenalan Islam: Bugis telah mengenal Islam sejak abad ke-17. Namun secara resmi Islam di Sulawesi Selatan diperkenalkan oleh tiga nenek moyang dari Koto Tangah di Minangkabau pada awal abad ke-17 (Sewang 2005: 89). Tiga Datuk yang disebut “Bugis” atau “Makassar” adalah Abdul Makmur dan Khatib Tongar. (Khatib Tunggal), dia adalah Datuk ri Bandang (Datuk ri Bandang), mereka memiliki banyak keahlian di bidang Fiqh. Sulaiman, Khatib Suulung (Khatib Suulung), dikenal sebagai Datuk Patimang, seorang ahli tauhid. Pakar sufi Abdul Jawad (Abdul Jawad), Khatib Bungsu (Khatib Bungsu) dikenal dengan sebutan Datuk Ritiro. Secara historis, Islam pertama kali ditemukan di Kerajaan Luwu (sekitar tahun 1589), kemudian di Gowa-Tallo pada tahun 1603 diterima oleh Islam, dan kemudian beberapa kerajaan lainnya, seperti Kerajaan Sidlunge tahun 1605, Kerajaan Soppeng tahun 1607 , Wajo pada 1609 dan tulang pada 1611 (Arsyad 2000).

Bugis telah mengenal Islam sejak abad ke-17. Namun secara resmi Islam di Sulawesi Selatan diperkenalkan oleh tiga nenek moyang dari Koto Tangah di Minangkabau pada awal abad ke-17 (Sewang 2005: 89). Tiga Datuk yang disebut “Bugis” atau “Makassar” adalah Abdul Makmur dan Khatib Tongar. (Khatib Tunggal), dia adalah Datuk ri Bandang (Datuk ri Bandang), mereka memiliki banyak keahlian di bidang Fiqh. Sulaiman, Khatib Suulung (Khatib Suulung), dikenal sebagai Datuk Patimang, ahli tauhid. Pakar sufi Abdul Jawad (Abdul Jawad), Khatib Bungsu (Khatib Bungsu) dikenal sebagai Datuk Ritiro. Secara historis, Islam pertama kali ditemukan di Kerajaan Luwu (sekitar tahun 1589), kemudian diterima oleh Islam di Gowa-Tallo pada tahun 1603, disusul oleh beberapa kerajaan lainnya, seperti Kerajaan Sidlunge tahun 1605, Kerajaan Soppeng tahun 1607, Wajo pada 1609 dan tulang pada 1611 (Arsyad 2000). Setelah Kerajaan Gowa-Tallo memulai perang, Islam diterima di kerajaan-kerajaan terkini.

Ketiga datuk tersebut tiba di Makassar sebagai upaya para pedagang Melayu (Muslim) yang tidak puas melihat orang Bugis-Makasar terpengaruh ajaran Kristen (Katolik). Persaingan simpatik masyarakat Bugis-Makassar antara misionaris Katolik dan pedagang Melayu sudah berlangsung lama. Hal tersebut dikatakan oleh seorang misionaris, Antonio de Payva, yang mengunjungi Makassar pada tahun 1542. Saat itu, tiga orang Datuk tiba di Makassar dan menjadi utusan Kerajaan Aceh (Sewang 2005: 90). Mereka diberangkatkan atas permintaan Karaeng Matoaya, Raja Tarot. Ketiga leluhur ini menyebarkan agama Islam di tanah Bugis-Makassar. Doktrin Islam yang dibawa ke sini adalah doktrin yang dianut oleh orang-orang yang sangat fanatik di daratan Sumatera yang dikuasai oleh Kerajaan Aceh.

Secara umum di Sulawesi Selatan khususnya di daerah Bugis terdapat dua cara penyebaran agama Islam. Pertama, Islam disebarkan melalui cara damai. Metodenya dilakukan melalui sistem top down, melalui media tata kelola seperti yang dijelaskan di atas. Mudah bagi orang untuk mengikuti penguasa (raja) untuk menerima Islam. Cara ini digunakan oleh ketiga datuk dalam menyebarkan Islam (Sewang 2005). Mereka melakukan ini karena melihat dukungan yang kuat dari masyarakat dan para pemimpinnya. Cara ini sangat berhasil, dan Islam menyebar dengan cepat. Tanggapan publik atas penerimaan penguasa terhadap Islam. Di beberapa kerajaan, Islam populer, tetapi di negara lain, ada perlawanan. Kerajaan kembar Gowa-Tallo menanggapi penolakan kerajaan terhadap Islam, menggunakan perang sebagai bentuk komitmen mereka untuk menyebarkan Islam.

Kedua, Islam disebarkan melalui “perang”. Cara ini disebut sistem bottom-up. Di bawah tekanan Kerajaan Gowatalo, beberapa kerajaan menerima Islam. Kerajaan Bone, Soppong, dan Wajo adalah negara yang menerima Islam sebagai agama kerajaan setelah ditaklukkan (Sewang 2005: 117). Penaklukan ketiga kerajaan ini berdampak pada lancarnya penyebaran agama Islam di tanah Bugis. Ketiga kerajaan ini menjadi barometer kerajaan kecil lainnya yang menerima Islam, karena masing-masing bertanggung jawab untuk mengelola kerajaan kecil di sekitarnya. Fokus misionaris dalam hal ini adalah erosi pan-panisme dan ideologi lama yang dinamis, seperti yang terjadi di komunitas Muslim di seluruh Indonesia.

Upaya Mereduksi Adat: Beberapa orang (seperti Wajo) menolak untuk menerima Islam, yang menunjukkan bahwa Islam tidak dapat menyebar dengan lancar. Bahkan jika pihak berwenang menetapkan Islam sebagai agama resmi negara, itu belum otomatis diterima oleh semua orang. Keputusan politik penguasa Wajo ditolak oleh beberapa pihak (Kesuma 2004). Migrasi orang Tovani dari Wajo ke Sidenreng pada abad ke-17 merupakan bentuk penolakan mereka terhadap Islam. Migrasi ini mencerminkan keyakinan yang kuat terhadap ajaran yang dianut. Doktrin warisan leluhur telah ditaati dan dipraktikkan dengan kuat. Sampai saat ini, kepercayaan Towani masih pada Sidenreng Rappang (Hasse 2018).

Penyebaran Islam yang tidak positif, yang lambat laun mengubah kebiasaan orang Bugis. Salah satu kesulitan yang dihadapi sang kakek adalah mengubah kebiasaan dan kesukaan orang Bugis, seperti berjudi, minum dan makan daging babi. Pasalnya, kebiasaan berjudi tidak hanya untuk orang biasa saja, tapi juga untuk pihak berwajib. Pengamatan pribadi penulis menemukan bahwa sebagian orang menyukai sabung ayam dan judi lainnya karena juga mengandung unsur hiburan. Orang Bali juga mempraktikkan kebiasaan ini (Geertz 1973). Selain unsur permainan judi, sabung ayam juga dianggap sebagai sarana hiburan. Kebiasaan sabung ayam tidak hanya dianggap permainan judi karena melibatkan peredaran uang yang banyak, tetapi juga dianggap sebagai sarana pemersatu dan penyampaian informasi. Pandangan ini didasarkan pada kondisi bahwa ketika ayam dicangkokkan secara bersama-sama dalam prakteknya juga memungkinkan masyarakat memperoleh berbagai informasi yang tersebar dalam prosesnya. Bahkan tidak jarang diadakan pertemuan antar orang dan kelompok di tempat ini. Berbagai diskusi berlangsung dalam kompetisi sabung ayam tersebut.

Selain itu, penerimaan penguasa Islam dan Bugis tidak terlepas dari kepiawaian Dak dalam menyampaikan doktrin Dak. Keahlian mereka dapat menyangkal dan mengubah kepercayaan sebagian besar orang Bugis, dan mereka adalah pendukung kuat animisme dan dinamisme (Nasruddin 2017). Vitalitas dan vitalitas segala sesuatu adalah ajaran utama para mantan Bugis Islam. Kedua pemahaman ini ada dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Bugis. Namun, keahlian para leluhur dapat mengubah keyakinan ini. Keahlian ketiga leluhur di bidang hukum Islam, hukum Islam, tauhid (teologi), dan tarekat membantu memetakan wilayah-wilayah penyebaran Islam. Dari sudut pandang ini, distribusi Islam didasarkan pada perhitungan yang cermat oleh Datuk. Penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan mirip dengan bahasa Wali Jawa. Namun, tujuan penyebaran Islam di Sulawesi Selatan adalah dari atas ke bawah, dari penguasa hingga rakyat.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, ketiga leluhur yang memperkenalkan Islam di Burgess dan sekitarnya memiliki keahlian yang berbeda. Pengenalan Islam juga didasarkan pada pengetahuan profesional dan masalah di tempat yang dihadapi. Cara Islam yang diperkenalkan di setiap daerah berbeda dengan daerah lain. Di daerah di mana orang-orang percaya pada doktrin leluhur yang kuat, doktrin ini menjadi bagian dari datuk, dan mereka ahli dalam tauhid dan bidang lainnya. Oleh karena itu, khususnya dari perspektif penyebaran Islam di tanah Burgess dan seluruh provinsi Sulawesi Selatan, apa yang dilakukan ketiga Datos ini terdiri dari tiga model, yaitu model hukum Islam, model tauhid dan tasawuf. Mengenai penyebaran agama Islam di kawasan Bugis, salah satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah partisipasi para pengusaha Melayu yang telah lama berkecimpung dalam kegiatan perdagangan dan kontak sosial dengan Bugis untuk memberikan informasi kepada datuk.

Keberhasilan penyebaran Islam di Bugis pun sukses besar dalam dakwah. Islam selalu menjadi agama yang dianut / dianut oleh masyarakat Bugis di sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan. Semangat mereka untuk membangun fasilitas ibadah mencerminkan dedikasinya. Di segala penjuru (misalnya setiap daerah / kota), terdapat bangunan masjid yang megah. Ketaatan mereka pada Islam juga terlihat dari ibadah dan perayaan mereka. Setiap kali kita berdoa, suara doa dipanggil di dalam masjid. Selama Ramadan, masjid dibanjiri umat Islam untuk ibadah tahunan ini. Setiap perayaan hari raya Islam itu sama. Mereka memenuhi masjid, mengikuti ceramah agama dengan kebijaksanaan, dan merayakannya dengan kemeriahan. Dari segi jumlah pemeluknya, Bugis sebagian besar beragama Islam.

Berita Agama