Perspektif Hadis dan Hukum Islam Mengenai Pakaian Muslimah

Perspektif Hadis dan Hukum Islam Mengenai Pakaian Muslimah

www.do-not-zzz.comPerspektif Hadis dan Hukum Islam Mengenai Pakaian Muslimah. Pakaian adalah barang yang dikenakan (baju, celana, dll). Dalam bahasa Indonesia pakaian disebut juga sandang. Oleh karena itu pakaian muslim mengacu pada pakaian yang dikenakan oleh wanita muslimah. Berdasarkan pengertian tersebut, busana muslim dapat diartikan sebagai busana muslimah yang dapat menutupi aurat yang dibutuhkan oleh agama untuk melindungi kepentingan perempuan dan masyarakat tempat tinggalnya.

Pakaian adalah benda yang digunakan manusia untuk menutupi dan melindungi seluruh atau sebagian tubuh dari panas dan dingin, seperti kemeja, celemek, dan jilbab. Pakaian juga diartikan sebagai segala sesuatu yang menutupi tubuh. Pakaian dipahami sebagai alat pelindung tubuh atau fasilitas untuk memperbaiki penampilannya. Akan tetapi, selain memenuhi kedua fungsi tersebut, pakaian juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi nonverbal, karena pakaian mengandung simbol dengan berbagai arti.  Gaya berpakaian adalah bagian dari membawa diri Anda sendiri ke lingkungan. Setelah berpakaian, kita harus memakai baju agama, bukan lap. Pakaian memiliki arti tertentu. Pasalnya, ukuran pakaian harus sedemikian rupa sehingga postur dan gerak tubuh tidak akan menggugah godaan orang lain. Orang berpakaian sesuai etika, tidak hanya tidak harus menjaga perilaku moral masyarakat (orang lain), tetapi juga melindungi diri sendiri.

Di Indonesia, busana muslim merupakan bahasa yang populer untuk busana muslim wanita. Menurut bahasa WJ S. Poerwadarminta, pakaian adalah pakaian dan perhiasan yang indah. 7 Menurut Juneman dikutip John M. Eckers dan Hassan Shadily dalam buku “Fashion Psychology”, fashion diartikan sebagai “cara” atau “fashion”, dan pakaian diterjemahkan sebagai “pakaian”. Pakaian tidak hanya digunakan sebagai penutup alat kelamin (tubuh), tapi juga memiliki fungsi kecantikan. Para ahli sepakat bahwa semua pakaian legal untuk pria dan wanita, meskipun bukan sutra, pakaian yang ditenun dengan sutra, pakaian jubah (swag), pakaian yang direndam air kencing, pakaian yang terbuat dari kulit atau bulu atau lainnya.

Selain sandang (pangan) dan papan (papan), pakaian muslim atau lebih disebut sandang (sandang) merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Selain berfungsi sebagai penutup tubuh, pakaian juga mewakili status sosial. Karena pakaian merupakan perwujudan kodrat manusia dan memiliki rasa malu maka ia selalu berusaha menutupi tubuhnya.Busana berdasarkan bahasa adalah segala sesuatu yang melekat pada tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menurut istilahnya, pakaian adalah pakaian yang kita kenakan dari ujung kepala hingga ujung kaki setiap hari, beserta aksesorisnya, seperti tas, sepatu dan segala aksesoris yang melekat.

Menurut Quraish Shihab tentang pakaian wanita Muslim dalam “Hijab”, pakaian merupakan produk budaya, sekaligus pedoman agama dan moral. Dari sini adalah yang disebut pakaian adat, daerah dan nasional, serta pakaian formal dan pakaian pemujaan yang digunakan dalam perayaan tertentu.

Dengan berkembangnya gaya hidup atau era fesyen perempuan, alat kelamin tidak lagi menjadi alasan keberadaannya, terutama perempuan yang memamerkan alat kelaminnya di depan umum sangat bangga dengan dirinya karena dianggap lebih beradaptasi dengan kehidupan modern. Pacaran bisa menggugah simpati setiap orang tanpa disadari harga dirinya, ternyata mereka hanya menjadi beban bencana dalam hidupnya.  Dengan perkembangan mode modern, wanita sekarang sengaja memakai jilbab (pelindung) hanya di pundak, bukan di kepala. Karenanya, pakaian yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh kini sudah terbuka. Tak satupun dari ini dapat dipisahkan dari musuh Islam, negara-negara Barat yang datang kepada kami untuk menyebarkan gagasan. Mereka merancang strategi dan dengan cerdik merumuskan rencana jangka panjang. Upaya pertama mereka adalah menghilangkan rasa malu yang sudah dimiliki wanita Muslim. Setelah itu, bagaimana menjauhkan mereka dari Dinul Islam. Adapun cara menarik mangsa melalui dunia mode, dll. Serangan berikutnya adalah moralitas. Mereka mulai menyediakan pakaian atau metode berpakaian yang mungkin merusak moral dan adat istiadat.

Islam adalah agama yang cocok untuk segala usia dan bisa berkembang dimanapun, selama wanita tidak melebihi standar bisa diberikan kebebasan yang sebesar-besarnya agar bisa mendesain busana sesuai selera masing-masing. Busana Muslim Wanita Merupakan Refleksi Psikologi Busana Menurut ilmu pengetahuan, prinsip dasar psikologi pakaian merupakan cerminan diri seseorang. Artinya karakter seseorang dapat dibaca dari cara dan gaya pakaiannya, misalnya orang yang rendah hati, ekstrim dll akan membaca dari pakaiannya. Hukum Syariah merekomendasikan bahwa seseorang berpakaian adil, logis, tidak terlalu sombong, atau kusut atau lusuh. Islam termasuk komponen yang secara khusus memperhatikan kehidupan umatnya. Organisasi ini bertujuan untuk mengatur urusan fisik dan mental dan menghormatinya. Artinya, memberikan etika terkait sandang, papan, dan pangan, serta tidak cenderung rapi atau materialistis. Dalam hal pakaian, Islam menganjurkan untuk tidak berpakaian terlalu banyak, yaitu tidak terlalu boros. Banyak orang mengenakan pakaian yang melebihi martabat mereka, dihiasi dengan emas dan perak.

Baca Juga: Sejarah Berdirinya NU (Nahdlatul Ulama)

Mengenai pakaian yang menutupi energi spiritual bagi wanita muslimah harus longgar dan tidak membuka aurat yang diperintahkan Allah untuk ditutup. Apalagi baju muslim harus sangat panjang, dan bagian bawah tubuh muslim tidak boleh terbuka. Namun, bukan pakaian kebesaran yang menarik perhatian orang karena corak atau warnanya. Dan tidak memperlihatkan aurat, karena terlalu ketat seperti celana modern saat ini. Karena busana muslim tidak hanya menutupi seluruh tubuh dengan kain saja, tetapi juga tidak memperhatikan bentuk dan coraknya, sehingga terkadang kain dililitkan pada tubuh, tetapi pada dasarnya tidak menutupi aurat, karena bahayanya bersifat elastis (karet). ), sehingga mengikuti kurva anggota badan. Pakaian yang menutupi badan tidak terlalu bagus (ketat) yang menandakan bentuk tubuh. Nabi SAW. Usama bin Zaid pernah dibekali dengan pakaian yang sangat lembut yang terbuat dari linen. Nabi bersabda bahwa setelah Nabi mengetahui bahwa pakaian itu diserahkan kepada istrinya, suruhlah istri Anda untuk mengenakan pakaian dalam yang tebal di bawah kain linen, saya khawatir pakaian itu akan memperlihatkan sosoknya.

Pakaian memang multifungsi, tidak hanya sebagai aksesoris, tetapi menjadi sarana pencegah suhu tinggi dan cuaca dingin, lambang kelas sosial, dan lambang perlindungan moral diri untuk menghindari fitnah, yang dapat mengundang lawan jenis untuk ikut serta dalam kegiatan keagamaan dan Kejahatan, pelecehan seksual bahkan perilaku zina.  Perintah jilbab atau pakaian muslim adalah perintah Allah, dan banyak mengandung hikmah ilahi di dalam perintah.

Perspektif Hadis Nabi saw

Islam tidak menetapkan pakaian tertentu yang wajib dikenakan umat Islam, dan mengakui semua jenis pakaian, selama memenuhi standar pakaian Islami, dan tidak berlebihan. Pakaian yang dikenakan Nabi sendiri pada saat itu sama dengan pakaian orang pada zaman itu. Ia tidak pernah merekomendasikan atau melarang pakaian tertentu. Ia hanya memberikan ciri dan ciri pakaian yang dilarang. Oleh karena itu, hukum dasar muamalah yang meliputi pakaian diperbolehkan dan tidak dilarang kecuali ada dalil yang melarangnya. Ini berbeda dengan kegiatan ibadah berdasarkan hukum Islam, kecuali yang diizinkan oleh Islam.

Salah satunya adalah perintah nabi untuk menutupi seluruh bagian tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan

هلَصِهاللَِّلوُسَرىَلَعْتَلَخَد،ٍرْكَبيِبَأَتْنِبَءاَمْسَأهنَأ،اَهْنَعُهاللََّيِضَرَةَشِئاَعْنَع،َمهلَسَوِهْيَلَعُاللهىهلَصِهاللَُّلوُسَراَهْنَعَضَرْعَأَف،ٌقاَقِرٌباَيِثاَهْيَلَعَوَمهلَسَوِهْيَلَعُالله:َلاَقَو«َمْسَأاَياَذَههلَِّإاَهْنِمىَرُيْنَأْحُلْصَتْمَلَضيِحَمْلاِتَغَلَباَذِإَةَأْرَمْلاهنِإ،ُءااَذَهَ

(رواه ابوداود)

Dari Aisyah ra. Asma’ Bint Abi’ Bakr masuk dan bertemu Nabi. Kemudian dia mengenakan pakaian tipis dan Rasula melihatnya. Sambil membelakangi dia, dia berkata: “Asma> sebenarnya adalah seorang wanita. Jika dia sedang menstruasi, tidak ada gunanya melihatnya kecuali untuk bagian ini, tetapi isyarat ke wajah dan telapak tangannya. HR Abu’Daud

Dalam hal ini, Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa pengaturan tentang alat kelamin perempuan terbagi dalam dua tahap. Pada tahap pertama, agama masih memperbolehkan perempuan membuka muka dan telapak tangan, kemudian tahap kedua dicabut izinnya dengan mewajibkan seluruh tubuh.

Beberapa ulama juga mengemukakan bahwa sebagaimana dikemukakan dalam hadits di atas, kewenangan membuka muka dan telapak tangan sangat dibutuhkan, misalnya wanita yang ingin menikah.

Seorang wanita harus mematuhi apa yang dia lakukan. Selain menaati Allah dan Rasulnya, menutupi aurat seseorang adalah salah satu tugas terpentingnya. Mengenakan pakaian yang tidak mencolok yaitu pakaian yang lebar dan tidak sempit dapat menutupi aurat secara syar’i, dan yang terpenting mencegah agar tidak dilecehkan. Rasula melihatnya. Selalu ingatkan wanita akan kehadiran mereka dalam hadits yang ditemukan oleh Sunan al-Turmudzi.

اللهِدْبَعْنَعْتََرَخاَذِاَف،ٌةَرْوَعُةَأْرَمْلا:َلاَق،َمهلَسَوِهْيَلَعُهاللَّىهلَصَِيِبهنلاِنَع،.ُناَطْيهشلااَهَفَرْشَتْس (رواه ترمذى)

Dari Abdullah’ . Nabi Saw berkata: “ Seorang wanita adalah aurat, jadi ketika dia meninggal kan rumah, iblis akan selalu mengikutnya. (H.R Turmuzi>)

Hadis di atas memperingatkan setiap wanita bahwa hampir semua wanitanya adalah aura yang tidak boleh dilihat oleh orang asing. Selain itu, wanita sangat mungkin dilecehkan karena segala sesuatu tentang dirinya menarik bagi pria. Oleh karena itu bagi seorang wanita yang pergi kemana saja harus menutupi auratnya. Kemudian tutup aurat dalam QS al-Nu’ r / 24:31 secara berurutan. Dalam Asbab’ al-Nuzul’ 1, ayat tersebut berkisah tentang ayat ini, yaitu Asma> ‘binti Mursid, pemilik kebun kurma, sering didatangi oleh perempuan yang berkebun tetapi tidak berjubah, sehingga pergelangan kakinya Bisa dilihat. Demikian pula, dada dan kepala sanggul mereka juga terlihat. Asma berkata: (Betapa mengerikan hal ini.) Oleh karena itu, kitab suci di atas diturunkan, memerintahkan orang percaya untuk menutupi alat kelamin mereka.

Dalam menafsirkan kata-kata Allah di atas, para ulama memiliki pendapat yang berbeda tentang perhiasan apa yang dapat ditampilkan oleh wanita. Beberapa orang mengira bahwa, misalnya Sa’id bin Jubair, al-Auza’i> dan al-Dahhak, perhiasan (zi’nah) yang dapat dilihat adalah wajah dan telapak tangan. tangan. Pada saat yang sama, (Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa yang dapat dibuktikan adalah sandang, sebagaimana terdapat dalam QS al-A’raf / 7: 31.

Baca Juga: Akhir Kejayaan Dinasti Umayyah (743-750 M)

Selain itu, al-Hasan meyakini bahwa permata yang muncul dalam ayat ini adalah wajah dan pakaian. Pada saat yang sama, (Ibnu Abbas) berpendapat bahwa perhiasan di sini adalah jilbab, cincin dan pewarna pada telapak tangan dan cincin.

Ayat ini untuk menjelaskan, dasar hadis dan para ulama menjelaskan batasan alat kelamin wanita, yang menunjukkan bahwa bagi wanita yang merdeka seluruh tubuhnya berbentuk halo kecuali wajah dan telapak tangan. Selain itu, (Abu’ Hanifah) menambahkan bahwa telapak kaki wanita bukanlah alat kelaminnya. Bahkan menurut ulama lain bahwa inilah Reiki.

Selain itu Nabi dilarang memakai baju ketat dan tidak memperlihatkannya kepada Nabi. Mengatakan sesuatu

ق،َةَرْيَرُهيِبَأْنَع:َمهلَسَوِهْيَلَعُاللهىهلَصِاللهُلوُسَرَلاَق:َلا«ِراهنلاِلْهَأْنِمِناَفْنِصٌتاَيِساَكٌءاَسِنَو،َساهنلااَهِبَنوُبِرْضَيِرَقَبْلاِباَنْذَأَكٌطاَيِسْمُهَعَمٌمْوَق،اَمُهَرَأْمَلِنْسَأَكهنُهُسوُءُر،ٌتَلَِئاَمٌتَلَيِمُمٌتاَيِراَعَلََّو،َةهنَجْلاَنْلُخْدَيَلَّ،ِةَلِئاَمْلاِتْخُبْلاِةَماَذَكَواَذَكِةَريِسَمْنِمُدَوُيَلاَهَحيِرهنِإَو،اَهَحيِرَنْدِجَي33(رواه مسلم)

Dia berkata: Rasulullah – Semoga Damai dan Doa Allah – Dia berkata: “Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah saya lihat sebelumnya. (1) Cambuk itu seperti ekor buntut, digunakan untuk memukul (2) Wanita memakai pakaian, tetapi juga telanjang (karena pakaiannya terlalu sedikit, terlalu tipis atau buram, terlalu ketat atau pakaian laki-laki yang menjengkelkan karena bagian kemaluannya terbuka), berjalan terhuyung-huyung, mudah menggoda atau merayu rambutnya seperti punggung unta. tidak bisa masuk Surga, kamu bahkan tidak bisa mencium bau surga.Bahkan aroma surga bisa mencium ini dan itu. (Muslim)

Dari segi teks, dari perspektif teknologi naratif, seperti yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya, hadits-hadits di atas dinarasikan secara bermakna; dari bentuk bahasa yang digunakan oleh para nabi dalam hadits-hadits tersebut dapat dilihat bahwa di atas Hadist-hadits tersebut berbentuk tams, yang menggambarkan hal-hal yang abstrak dan hal-hal yang konkret, sehingga pemahaman menjadi lebih dekat dengan kenyataan. Hadis di atas berisi penjelasan tentang uraian dua kelompok penghuni Neraka. Pertama-tama, aparat penegak hukum dengan sengaja menggunakan kedudukannya daripada menghukum berdasarkan perbuatan salah, tetapi menghukum hal-hal tertentu karena faktor lain, bahkan al-Imam al-Qurtubi mengatakan bahwa mereka merasa murka kepada Allah manusia. Kedua, mereka adalah wanita kurus yang suka menunjukkan apa yang seharusnya tidak mereka tunjukkan, dan mereka suka memakai terlalu banyak atau mengayunkan tubuh mereka untuk mencari perhatian pria.

Al-Muhaddisun (ulama hadits) meyakini bahwa hadits diatas adalah salah satu bukti mukjizat nabi, karena kedua kelompok di atas sebenarnya telah membuktikan hadits tersebut, dan keduanya sudah ada, bahkan hingga saat ini. Selain itu, Hadis tersebut di atas juga mengutuk kedua kelompok ini. Imam al-Nawawi berkata; Hadis menggambarkan seorang wanita yang menikmati berkah Allah tetapi tidak bersyukur karenanya; seorang wanita memakai pakaian tetapi menghindari perbuatan terpuji karena wanita itu menutupi sebagian tubuhnya, memperlihatkan bagian lain. Al Manawi, pakaian tipis yang dikenakan para wanita ini memperlihatkan tubuh mereka.

Selain itu, dari perspektif doktrin yang terkandung di dalamnya, hadits tersebut di atas tidak bersifat lokal atau temporal, tetapi diterima secara universal atau universal, termasuk semua wanita. Salah satu buktinya adalah perilaku wanita yang berbusana tipis, yang suka menunjukkan warna kulit bahkan montok, dan perilaku wanita yang suka menyimpang dari ketaatan kepada Allah SWT. Tidak hanya terjadi di tempat Rasula melihatnya. Hadits tersebut tersampaikan, namun hampir di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

Dilarang menggunakan semua bentuk pakaian, gerak tubuh dan ucapan, serta aroma yang dimaksudkan untuk menyebabkan atau menyebabkan gairah dan perhatian yang berlebihan. Ada sebuah hadits yang menyatakan:

مْوَيُهاللَُّهَسَبْلَأٍةَرْهُشَبْوَثَسِبَلْنَملاَقُهُعَفْرَيٍكيِرَشِثيِدَحيِفَلاَقَرَمُعِنْباْنَعوُبَأاَنَثهدَحٌدهدَسُماَنَثهدَحُراهنلاِهيِفُبههَلُتهمُثَةَناَوَعيِبَأْنَعَداَزُهَلْثِماًبْوَثِةَماَيِقْلاَةَناَوَعَلاَقٍةهلَذَمَبْوَث (رواه ابو داود)

Dari  Ibnu  Umar  perawi  berkata:  dalam  hadits  Syarik  yang  ia  marfu’kan  ia berkata,  “Barang siapa  memakai  baju  kemewahan  (karena  ingin  dipuji),  maka pada   hari   kiamat   Allah   akan   mengenakan   untuknya   baju   semisal.   Ia menambahkan dari  Abu  Awanah,  “lalu  akan  dilahab  oleh  api  neraka.”  Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah ia berkata, “Yaitu baju kehinaan.” (HR. Abu Daud)

Hadis di atas sejalan dengan petunjuk QS al-Ah} za> b / 33: 33 dalam Alquran, yang memerintahkan wanita untuk tidak bertingkah laku seperti orang tua yang cuek. Kebanyakan ulama setuju bahwa makna Tabaruj dalam ayat ini adalah bahwa seorang wanita menunjukkan perhiasan dan kecantikannya kepada seorang pria yang bukan Mahram, sedangkan pria lain dapat menimbulkan kegembiraan atau gangguan. M. Quraish Shihhab berbeda dengan bab sebelumnya, dikatakan bahwa tabarruj pada ayat di atas adalah wanita yang mengenakan kerudung di kepalanya namun tetap menampilkan perhiasan yang digunakan, seperti kalung, anting, bahkan leher. Qata Da berkata bahwa dalam ayat ini, tabarruj berarti perempuan, yang keluar dari rumahnya dan berjalan di depan laki-laki.

Perintah dalam ayat ini menasihati wanita untuk tidak mengenakan pakaian tipis untuk memamerkan perhiasan dan lekuk tubuh mereka seperti wanita cuek, yaitu situasi di mana masyarakat mengabaikan nilai doktrin ketuhanan dan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, baik karena keinginan atau minat sementara, atau sudut pandang yang sepele. (M. Quraish Shihab) menjelaskan bahwa ketidaktahuan yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas tidak hanya menunjukkan masa sebelum Islam, tetapi juga menunjukkan masa ketika karakteristik sosial di suatu tempat dan waktu bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, paragraf di atas masih berlaku hingga saat ini.

Ayat di atas sepertinya konsisten dengan hadits nabi. Telah dikatakan sebelumnya bahwa orang-orang ini adalah penghuni neraka. Wanita-wanita yang digambarkan dalam hadits ini tidak hanya terjadi di zaman nabi. Tentu saja, namun tingkah perempuan seperti ini mudah ditemukan saat ini. Kalaupun melihat berita tentang pelecehan seksual terhadap perempuan di media massa, hal itu disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah penampilan perempuan yang memperlihatkan lekuk tubuh, memakai baju tipis, dibesar-besarkan dan diekspos. Alat kelamin harus ditutup. Selain sesuai dengan ayat di atas, hadits tersebut juga sesuai dengan hadits lainnya, misalnya:

لآَوِهْيَلَعُهاللَّىهلَصِهاللََّلوُسَرُتْعِمَس:ُلوُقَيوٍرْمَعَنْبِهاللََّدْبَعاَنْعِمَس:ُلوُقَيَمهلَسَوِه«هنُهوُنَعْلا،ِتْخُبْلاِةَمِنْسَأَكهنِهِسُؤُرىَلَعٍتاَيِراَعٍتاَيِساَكًءاَسِنيِتهمُأُرِخآُنوُكَيَسٌتاَنوُعْلَمهنُههنِاَف

Kami telah mendengar ‘Abdullah ibn ‘Amru> berkata bahwa saya telah mendengar Rasulullah saw.bersabda: ‚pada akhir masa umatku nanti akan ada para wanita yang berpakaian namun terlihat telanjang, kepalanya seperti punuk onta, laknat lah mereka karena sebenarnya mereka telah dilaknati‛.

Secara kontekstual, hadits ini sangat cocok dengan situasi saat ini. Saat ini memang mudah dijumpai banyak wanita yang memakai baju tipis yang menonjolkan lekuk tubuh. Lihat saja gaya berbusana wanita modern yang banyak di antaranya tidak mematuhi syariat Islam, bahkan Anda bisa menemukan wanita yang memakai jilbab namun tetap memakai pakaian ketat dan transparan. Contohnya adalah gaya berpakaian beberapa mahasiswi dan masyarakat saat ini. Banyak diantara mereka yang masih memakai jilbab, tapi jilbab yang mereka pakai transparan, dan baju yang mereka pakai tipis dan ketat untuk menunjukkan lekuk, jadi masih banyak lagi dari ini. Perilaku wanita.

Berita Agama