Sejarah Singkat Asal Mula Walisongo

Sejarah Singkat Asal Mula Walisongo

www.do-not-zzz.comSejarah Singkat Asal Mula Walisongo. Wali Songo merupakan tokoh Islam yang disegani di Indonesia, terutama di pulau Jawa, karena peran historis mereka dalam penyebaran agama Islam di Indonesia. Kata Wali Songo dari kata Wali > “orang yang dipercaya” atau “orang yang ditugaskan” sedangkan kata Sanga dalam (bahasa Jawa: Sɔngɔ)> berarti nomor sembilan. Dan sebut, istilah ini sering diartikan sebagai “Sembilan Wali”. 

Meskipun disebut “Sembilan Pengawal” (Wali Songo) (九 卫), ada bukti bahwa anggota dari sembilan orang suci ini hidup bersama pada waktu yang berbeda. Selain itu, beberapa sumber menggunakan istilah “Wali Songo” untuk merujuk pada karakter selain sembilan “Wali Songo” yang paling terkenal.

Setiap anggota Wali Songo dikaitkan dengan gelar Jawa Sunan, yang berarti “kehormatan” dalam konteks ini.

Kebanyakan orang suci juga dijuluki Raden dalam hidup mereka karena darah bangsawan mereka. (Untuk penjelasan tentang istilah bangsawan Jawa di Yogyakarta, silakan lihat bagian “Gaya dan Gelar” di Kesultanan Yogyakarta.)

Makam (jubah) para wali orang Jawa ini dianggap oleh orang Jawa sebagai tempat ziarah ke Jawa sebagai cara mengungkapkan rasa syukur dan syukur atas manfaat yang telah mereka amalkan sepanjang hidup mereka. Dalam tradisi Jawa, makam memiliki kata “punden”.

Arti Wali Songo

Ada beberapa pendapat tentang pengertian Wali Songo. Yang pertama adalah 9 wali, yang melambangkan banyaknya wali yang berjumlah 9, atau sanga dalam bahasa jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo / sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti luhur. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata ada berasal dari bahasa Jawa yang artinya tempat.

Pendapat lain adalah bahwa Wali Songo adalah majelis Dakwah yang didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim pada 1404 (808 tahun). Wali Songo adalah seorang pembaharu masyarakat pada saat itu. Dari kesehatan, pertanian, perdagangan, budaya, seni, masyarakat hingga pemerintahan, berbagai perwujudan peradaban baru Jawa telah merasakan pengaruhnya.

Baca Juga: Sejarah Singkat Masuknya Islam ke Tanah Jawa

Konsep Wali Songo atau Wali Sembilan dalam kosmologi Islam dapat dirunut kembali ke konsep wali, umumnya para sufist percaya bahwa perwalian mencakup sembilan tingkatan perwalian. Shatukh al-Akbar Muhyiddin Ibn Araby menggambarkan sembilan tingkatan perwalian dan tanggung jawab menurut distrik dalam buku Futuhat al-Makkiyah. Sembilan tingkat perwalian:

  1. 1) Wali Aqthab atau Wali Quthub, pemimpin dan penguasa orang-orang suci di seluruh alam semesta.
  2. 2) Wali Aimmah, asisten dari Wali Aqthab, akan menggantikan posisinya jika meninggal.
  3. 3) Wali Autad, penjaga empat penjuru mata angin.
  4. 4) Wali Abdal (Wali Abdal), menjabat sebagai wali selama tujuh musim.
  5. 5) Wali Nukaba, penjaga hukum Syariah.
  6. 6) Wali Nujaba, ada delapan orang setiap saat.
  7. 7) Penjaga Hawariyyun, pembela kebenaran agama, membela baik dalam bentuk pertahanan maupun senjata.
  8. 8) Wali Rajabiyyun (Wali Rajabiyyun), yaitu wali terkenal dari setiap Rajab yang muncul setiap bulan.
  9. 9) Wali Khatam, wali yang mengontrol dan mengelola wilayah komunitas Muslim.

Nama Para Wali Songo

Biasanya dari nama-nama Wali Songo ada 9 nama yang dikenal sebagai anggota Wali Songo yang paling terkenal, yaitu:

  • Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 Nabi Muhammad. Ia juga dikenal sebagai Sunan Gresik, Sunan Tandhes atau Murshid Akbar Thariqat Wali Songo. Nasab As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim berdasarkan catatan As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini. Kumpulan catatan Nasab Maulana Malik Ibrahim tersebut kemudian dicatat dalam “Ensiklopedia Ahlul Bait Nasab” yang memuat beberapa jilid (volume penuh).

Dalam catatan itu tertulis: As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin As-Sayyid Barakat Zainal Alam bin As-Sayyid Husain Jamaluddin bin As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Abdul Malik Az Askhan Al Binwi bin-Sayy Fa -Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin As-Sayyid Ali Khali’Qasam bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Al-Imam Isa Al-Imam Muhammad bin Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Ja’far Sadiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Al-Husain bin Sayyidah Fatima Az-Zahra / Ali Nabi Muhammad Ra Benti Ben Abi Thalib dari Surula

Diyakini bahwa ia lahir di Samarkand di Asia Tengah pada paruh pertama abad ke-14. Meinsma versi Babad Tanah Jawi disebut Asmarakandi menurut pengucapan bahasa Jawa As-Samarqandy [5]. Dalam cerita rakyat, sebagian orang memanggilnya Kakek Bantar.

Maulana Malik Ibrahim (Maulana Malik Ibrahim) memiliki 3 orang istri yaitu:

  1. Siti Fatima binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Ramalan Raja · Dinasti Azmat Khan 1), dengan 2 orang anak: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah
  2. Siti Maryam binti Syekh Subakir memiliki empat orang anak yaitu: Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafu dan Ahmed
  3. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi memiliki 2 orang anak: Abbas dan Yusuf.

Kemudian, Sherifa Sarah Bint Mullana Malik Ibrahim menikah dengan Said Fader Ali Muthada [Sunan Santri / Radan Santri] Ia memiliki dua orang putra, Sunan Manyuran (Sunan Manyuran) dan Sunan Ngudung (Sunan Ngudung). Kemudian Said Uzman Haji (Sunan Ngudung) memiliki anak dari Said Jafar Sadik (Sunan Kudus).

Maulana Malik Ibrahim (Maulana Malik Ibrahim) umumnya dianggap sebagai wali pertama dakwah Islam di Jawa. Ia mengajarkan metode pertanian baru dan menyambut orang-orang biasa, orang Jawa yang terpinggirkan di akhir pemerintahan Maya Pasit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati dan pikiran masyarakat yang saat ini sedang dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun sekolah berasrama di Leran di Gresik untuk belajar agama. Ia pun membangun masjid sebagai tempat ibadah pertama di Jawa yang hingga saat ini menjadi Masjid Jami’Gresik. Pada 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya ada di Desa Gapura Wetan di Gresik, Jawa Timur.

  • Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat, keturunan ke 22 Nabi Muhammad. Menurut catatan sejarah, ia adalah Ibrahim Zaidinddin Akbar (Putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar putri Champa, bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Champa ( Dewi Condro Wulan binti Raja Champa). Teks lengkapnya adalah sebagai berikut: Sunan Ampel bin Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Sayyid Jamaluddin Al-Husain bin Sayyid Ahmad Jalaluddin bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Sayyid Alwi Amqi Faqih bin Sayyidhamham Bin Said Mohamed Bin Said Alvi Bin Said Bin Ubaidila Bin Said Ahmed Mohamed Bin Said Bin · Said bin Said Mohammed bin Said-Hussein bin Said Fatima Azal Zahra Bint nabi Muhammad Rasula.

Sunan Ampel biasanya dianggap sebagai sesepuh oleh orang suci lainnya. Orang-orang ini berada di Ampel Denta, Surabaya, salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi Condrowati yang memiliki gelar Nyai Ageng Manila yang merupakan putri Adipati Tuban bernama Arya Teja, dan juga menikah dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Pernikahan antara Sunan Ampel dan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo ini dikaruniai dua orang putra: Sunan Bonang dan Siti Syari ‘ah), Sunan Derajat, Sunan Sedayu, Siti Muthmainnah dan Siti Hafsah. Pernikahan Sunan Ampel (Sunan Ampel) dan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, putra-putra mereka adalah: Dewi Murtasiyah, Asyiqah, Laden Husamuddin (Sunan Lamongan, Sunan Demak), Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel). Dekat Masjid Ampel di Surabaya.

Diperkirakan Sunan Ampel tiba di Majapahit pada awal abad ke-15, ketika Arya Damar sudah menjadi Adipati Palembang.Karena catatan sejarah, Sebelum Jawa Raden Rahmat singgah di Palembang. Menurut “Islam” Thomas W. Arnold (1977), Raden Rahmat adalah tamu Arya Damar saat berada di Palembang, berusaha memperkenalkan Islam kepada raksasa muda Palembang. Arya Damar, yang tertarik pada Islam, hampir menjadi Muslim. Namun, karena dia tidak berani mengambil risiko tindakan orang-orang yang masih terikat dengan keyakinan lamanya, dia tidak secara terbuka menyatakan Islamnya. Menurut cerita masyarakat setempat, setelah masuk Islam, Arya Damar menamai Ario Abdillah.

Informasi Hikayat Hasanuddin yang dibagikan oleh J. Edel (1938) menjelaskan bahwa ketika Kerajaan Shampa ditaklukkan oleh Raja Koci, Raden Rahmat sudah menetap di Jawa. Artinya Radin Rahmat datang ke Jawa sebelum tahun 1446 M, tahun Champa diserbu Vietnam. Hal ini sesuai dengan komunikasi Serat Walisana, Raja Blavijaya dari Mayapacht melarang Raden Rahmat kembali ke Champa karena Champain dan Perang Kerajaan Kochi berhasil dikalahkan dan dirusak. Kediaman Raden Rahmat di Surabaya dan kediaman kakaknya di Gresik tampaknya erat kaitannya dengan suasana politik di Champa, sehingga kedua bersaudara tersebut masing-masing ditempatkan di Surabaya dan Gresik, kemudian menikah dengan seorang perempuan setempat.

  • Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel dan keturunan ke-23 Nabi Muhammad. Ia merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, yang terakhir merupakan putri dari Adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Bonang banyak melakukan khutbah tentang seni untuk menarik orang Jawa percaya pada Islam. Konon dia pencipta suluk wijil dan lagu Tombo Ati, dan orang masih sering bernyanyi. Pembaruannya dalam gamelan Jawa antara lain biola dan bonang yang sering dikaitkan dengan namanya. Universitas Leiden menyimpan sastra Jawa yang disebut Het Boek van Bonang atau Buku Bonang. Menurut G.W.J. Druze, ini bukan karya Sunan Bonang, tapi mungkin berisi ajarannya. Sunan Bonang diyakini meninggal pada tahun 1525. Ia dimakamkan di daerah Tuban Jawa Timur.

  • Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah anak dari Sunan Ampel dan keturunan ke-23 Nabi Muhammad. Nama asli Sunan Drajat masih Munat. Masih Munat, yang kemudian dipanggil Sunan Draya. Ketika dia masih kecil, namanya Raden Qasim. Sunan Drajat juga dikenal dengan aktivitas sosialnya. Dia adalah wali yang memimpin penyatuan anak yatim dan pasien. Ia merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, yang terakhir merupakan putri dari Adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Drajat banyak berdakwah kepada publik. Ia menekankan kemurahan hati, kerja keras dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang merupakan adat istiadat Islam. Pondok Pesantren Sunan Dragat merupakan sekolah swasta mandiri yang terletak di Desa Dragat, Kecamatan Paciran, Ramon Gan. Lagu Macapat Pangkur disebut ciptaannya. Peninggalan gamelan Singomengkok dapat ditemukan di Museum Daerah Sunan Drajat di Lamongan. Sunan Drajat diyakini meninggal pada tahun 1522.

  • Sunan Kudus

Sunan Kudus merupakan anak dari Sunan Ngudung/Raden Usman Haji, dan Syarifah Ruhil/Dewi Ruhil bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 Nabi Muhammad. Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mubath bin Ali Khali’Qasamji bin Al-Qasam bin Ahmad Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain binti Sayyidah Fatima Az-Zahra bin Nabi Muhammad Rasulullah. Sebagai seorang Wali, Sunan Kudus berperan penting dalam pemerintahan Kesultanan Demak, sebagai panglima perang, penasehat Sultan Demak, Murshid Thariqah (Murshid Thariqah) dan hakim pengadilan negeri.

Dia banyak bicara di Jawa para penguasa dan priyayi. Di antara mereka yang menjadi muridnya adalah Sunan Prawoto, penguasa Demak, dan Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan. Salah satu monumen yang paling terkenal adalah Masjid Menara Kudus, yang arsitekturnya memadukan gaya Hindu dan Islam. Sunan Kudus diyakini meninggal pada tahun 1550.

  • Sunan Giri

Sunan Giri adalah anak dari Maulana Ishaq. Sunan Giri, keturunan ke-23 Nabi Muhammad, adalah murid Sunan Ampel dan murid Sunan Bonang. Ia mendirikan pemerintahan independen di Giri Kedaton di Gresik; kemudian menjadi pusat Dakwah Islam di Pulau Jawa, Indonesia Timur, dan bahkan Kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal adalah Sunan Giri Prapen (Sunan Giri Prapen), yang menyebarkan Islam ke daerah Lombok dan Bima. Makam Sunan Giri terletak di Desa Gili, Kecamatan Gresick.

  • Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah anak dari Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur (Syekh Subakir). Dia adalah murid Sunan Bonan. Sunan Kalijaga menggunakan seni dan budaya sebagai sarana dakwah, termasuk Wayang Kulit dan tembang suluk. Lagu Lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul biasanya dianggap karyanya. Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga dikisahkan pernah menikah dengan Dewi Saroh Bint Maulana Ishaq, Syarifah Zainab Bint Syekh Siti Jenar dan Ratu Kano Kediri binti Raja Kediri.

  • Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah anak dari Sunan Kalijaga. Ia adalah putra dari Sunan Kalijaga, dan istrinya adalah Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Sunan Muria menikahi putri Sunan Ngudung, Dewi Sujinah. Oleh karena itu, Sunan Muria adalah saudara ipar dari Sunan Kudus.

  • Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah anak dari Syarif Abdullah Umdatuddin dan anak dari Ali Nurul Alam Syekh Husain Jamaluddin Akbar. Dari sudut pandang ibu, ia masih merupakan keturunan dari putra Sri Baduga Maharaja Nyai Rara Santang, dan keturunan dari Istana Phayagala. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan manajemen, dan kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Putranya Maulana Hasanuddin juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan Islam di Banten.

Tokoh Pendahulu Wali Songo

Syekh Jumadil Qubro

Syekh Jumadil Qubro merupakan Maulana Ahmad Jumadil Kubra / Husain Jamaluddin al akbar bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’Qasam bin Alwi bin Muhammad bin AliAlwiji ​​Urai bin Ali bin Ja’far Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fatima Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Putra Syekh Jumadil Qubro adalah Hussein Jamaluddin (Husain Jamaluddin), istrinya bernama Putri Celine Dan (Putri Saadong II / Putri Kelantan Tua). Karakter ini sering disebut dalam berbagai kronik dan cerita rakyat, salah satu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.

Makamnya tersebar di beberapa tempat, yakni Semarang di Troulan atau Desa Turgo di Yogyakarta (dekat Pelavangan). Makam mana yang asli masih belum diketahui.

Syekh Datuk Kahfi

Syekh Datuk Kahfi adalah guru dari Pangeran Walunggusang dan Nyai Rara Santang (Syarifah Muda’im), putra dan putri Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), Raja Kerajaan Pajajaran Jawa Barat. Syekh Datuk Kahfi wafat bersama dengan makam Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Pangeran Pasarean dan raja-raja Kesultanan Cirebon lainnya dan dimakamkan di Gunung Jati.

Syekh Nurjati adalah tokoh utama penyebaran agama Islam di Cirebon. Tokoh lainnya antara lain Maulana Magribi, Pangeran Makhdum, Maulana Pangeran Panjunan, Maulana Pangeran Kejaksan, Maulana Syekh Bantah, Syekh Majagung, Maulana Syekh Lemah Abang, Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran Cakrabuana) dan Syarif Hidayatullah. Mereka pernah berkumpul di bawah pimpinan Syekh Nurjati di Pasanggrahan Amparan Jati. Mereka berdua adalah santri Syekh Nurjati. Selama persidangan, Syekh Nurjati berkata kepada murid-muridnya:

“Murid-murid saya sebenarnya masih ada rencana untuk kita implementasikan secepatnya, yaitu membentuk atau membentuk masyarakat Islam. Apa pendapat semua mahasiswa dan bagaimana kita membentuk masyarakat Islam ini?”.

Para siswa di audiensi semua setuju dengan rencana bagus ini. Syarif Hidayatullah berkeyakinan bahwa untuk membentuk masyarakat Islam perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan pantangan di daerah terpencil secara tertib. Pendapat ini didukung penuh oleh persidangan dan setuju untuk segera dilaksanakan. Pertemuan ini menjadi dasar pembentukan Organisasi Misionaris Dewan Warri Sango.

Baca Juga: Daftar 22 Tokoh Muslim Yang Berpengaruh di Dunia Tahun 2021

Asal Usul Wali Songo

Teori keturunan Hadramaut; Meski masih ada pandangan bahwa Wali Songo adalah keturunan Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, tempat-tempat ini sepertinya lebih seperti jalur distribusi misionaris daripada misi. Sumber taksi, kebanyakan dari Said atau Sharif. Muhammad Al Baqir (Muhammad Al Baqir) dalam bukunya “Tarika To Happiness” memiliki beberapa argumen untuk mendukung Keturunan Wali Songo (Yaman):

  • Islamic Belanda, ahli hukum LWC van den Berg, melakukan penelitian dari tahun 1884 sampai 1886, dalam bukunya “Le Hadhramout” dan “Colonial Arabs” (1886)

Berkata:”Hasil sebenarnya dari penyebaran Islam ke Negara Islam adalah buah dari Sayyid Syarif. Melalui mereka, agama Islam menyebar di antara raja-raja India dan raja-raja lain di Jawa. Selain mereka, meskipun ada suku Hadramaut lainnya (bukan kelompok Sayyid Syarif), tetapi mereka tidak meninggalkan banyak pengaruh. Ini karena mereka (Sayyid Syarif) adalah keturunan dari pemimpin Islam (Nabi Muhammad SAW).

  • Van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (halaman 192-204):

Pernyataan:“Pada abad ke-15, ada orang Arab atau keturunannya di Jawa, yaitu setelah era Kerajaan Maya Pasit yang perkasa. Orang-orang Arab berkeliaran di sekitar penduduk, beberapa dari mereka menduduki jabatan tingkat tinggi. Mereka terikat pada- tingkat pergaulan dan kekerabatan. Tampaknya India Para bangsawan Hindu di pulau-pulau tersebut dipengaruhi oleh ciri-ciri kerajinan Arab, karena sebagian besar adalah keturunan dari pendiri Islam (Nabi Muhammad SAW). Bangsa Arab Hadramaut mengajukan gagasan baru untuk orang Hindu, Orang Arab telah mewarisi ide baru ini dalam jejak nenek moyang mereka. “

Pernyataan Van den Berg secara khusus menyebutkan abad ke-15, yang merupakan abad tertentu di mana sebagian besar Vari Sangos di pulau Jawa datang atau lahir. Abad ke-15 ini jauh lebih awal dari abad ke-18, ketika gelombang berikutnya datang, gelombang berikutnya adalah Assafaf, Al Habsyi, Al Hadad, Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan marga Hadramao lainnya.

  • Hingga saat ini, komunitas Muslim di Hadramaut kebanyakan mempraktikkan Syafi’i, seperti kebanyakan orang di Sri Lanka, Pantai Hindia Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan Indonesia. Sebaliknya, kebanyakan Muslim di Uzbekistan dan di seluruh Asia Tengah, Pakistan dan India (wilayah non-pesisir) adalah Hanafi.
  • Persamaan dalam praktik sekte Syafi’i adalah sufi, dan prioritas diberikan kepada Aler Bethe; misalnya, mengadakan Maulid, membaca Diba dan Barzanji, berbicara dengan Nabi Berbagai doa, doa Nur Nubuwwah dan banyak adat istiadat lainnya hanya dapat ditemukan di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malaba, Sri Lanka, Sulu dan Mindanao, Malaysia dan Indonesia. Zainuddin Al Malabary dari Marakesh menulis buku populer “Syafi’i Fathul Muin” di Indonesia, yang memuat pendapat para Fuqaha dan Sufi. Hal ini menunjukkan bahwa sumbernya mirip, yaitu Hadramaut, karena Hadramaut merupakan sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan fiqh Syafi’i dengan amalan sufi dan prioritas Ahlul Bait.
  • Pada abad ke-15, Raja-raja Jawa (seperti Raden Patah dan Pati Unus) yang memiliki hubungan dengan Wali Songo menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar tersebut juga merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14 yaitu Abkhat Khan (atau Abhat Khan, putra Muhammad Shahib Mirbath). Dullah Khan) .Cucu dari bin Abdul Malik bin Alvi Sarjana Hadram terbesar abad ini. Keluarga besar ini disebut misionaris peziarah.Dia berdakwah hingga pelosok di Asia Tenggara dan memiliki putra dan cucu yang kerap menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar, Ali Akbar, Nuralam Akbar, dll.

Teori keturunan Cina

Sejarawan Slamet Muljana memicu kontroversi dalam buku “Kerajaan India Runtunya Jawa” (1968) yang menyebutkan bahwa Wali Songo memiliki keturunan Muslim Tionghoa [9]. Pandangan ini mendapat respon yang kuat dari masyarakat yang meyakini bahwa Wali Songo adalah keturunan Arab-Indonesia. Pemerintah Orde Baru telah melarang penerbitan buku tersebut.

Klaim bahwa Wali Songo adalah keturunan Tionghoa tetap kontroversial. Referensi yang dimaksud hanya bisa dicek oleh literatur akademik Slamet Muljana yang mengacu pada karya Mangaraja Onggang Parlindungan, kemudian merujuk pada seorang bernama Residen Poortman. Namun, hingga saat ini Resident Poortman belum dapat menentukan identitas dan kredibilitasnya sebagai sejarawan, misalnya jika dibandingkan dengan Snouck Hurgronje dan L.W.C van den Berg. Sejarawan Belanda saat ini telah banyak melakukan penelitian tentang sejarah Islam di Indonesia yaitu Martin van Bruinessen. Nama Putman bahkan tidak pernah disebutkan dalam bukunya. Nama-nama tersebut sangat detail dan banyak dijadikan rujukan.

Salah satu review yang ditulis oleh HJ, Th.G.Th., Ricklefs, ditulis oleh Russell Jones dengan judul “Muslim Tionghoa di Jawa pada Abad ke-15 dan ke-16”. Di sana, dia juga curiga ada seorang Poortman. Jika orang tersebut ada dan tidak ada nama lain, mengingat cerita yang cukup lengkap dalam tulisan Parlindungan mudah untuk dibuktikan.

“Itulah penafsiran dari para sumber-sumber yang dapat dijabarkan, sekian semoga dapat bermanfaat. “

Berita Agama